Selasa, 23 Juni 2009

Amanah Sang Hyang Wenang

Tidak dapat dibayangakan betapa nikmatnya tinggal di swarga dahana Alang-alang Kumitir, para Punakawan nampak enggan beranjak meninggalkan tempat itu. Mereka rasanya ingin berlama-lama tinggal di sana, namun karena tugasnya belum selesai, maka mereka harus secepatnya meninggalkan Alang-alang Kumitir , untuk segera menemui Begawan Kamunayasa beserta pengikutnya di Kahyangan Pangudal-udal tempat Resi Narada tinggal.
Memang orang-orang pengikut Resi Wicaradora ketika di Saptaarga mengira bahwa Begawan Kamunayasa dipenjara, akan tetapi rupanya dewa lebih tahu tentang hukum, sehingga mereka tidak akan ‘mengadili’ seseorang tanpa melalui proses hukum positif yang berlaku. Lurah Saptaarga mengira bahwa posisinya sekarang sudah aman, seandainya Begawan Kamunayasa menuntut balik, maka pasal-pasal berlapis akan justru bisa menjeratnya masuk ke dalam penjara. Mulai dari melecehkan orang didepan umum, bahkan menasional lewat media siar, memanggil secara paksa, mengadili –yang bukan menjadi wewenangnya-, memfitnah, menghina di hadapan orang banyak, memalsu data, menghasut masa, menipu , dan sebagainya. Untung Resi Narada bisa meredam gejolak emosi Begawan Kamunayasa,
“Eh, pak-pak pong kayu glondong di colong wong, alas gede kari critane, eh ngger Kamunayasa, you jangan emosi berlebihan, wis ngger iklasken saja, percayalah dan yakin bahwa siapa yang sabar bakal subur, elingana ya ‘becik ketitik ala ketara’ , sapa sing nandur bakal ngundhuh, siapa yang menanam kejahatan mesthi ujung-ujungnya bakal menerima kesengsaraan, wis ya ngger… aja diwales…aja diwales, kowe ngibadaha sing mempeng lan sabar , istiqomah tidak mencampuradukkan yang benar dan yang salah, jangan ada syirik , riak, takabur, dalam setiap amal dan ngibadahmu, methi Gusti Kang Akarya Jagad bakal paring ganjaran kemuliaan, sebaliknya jika seorang hamba atau kelompok sudah punya niat jahat , titenana ngibadah lan dongane ora bakal ditampa karo sing Kuasa..”
“Inggih pikulun “
“Wis ngger , hayo ulun anter ke sanggar pamujan , buanglah semua kotoran hatimu”
“Mari pikulun”
Sementara itu di Alang-alang Kumitir , Ki Lurah Semar beserta anak-anaknya tengah mengikuti pembekalan semacam work shop dengan pembelajaran Accelerated Learning , banyak hal yang telah mereka dapatkan, diantaranya adalah pembelajaran yang kontekstual, dan menyenangkan. Lumayan bisa digunakan untuk mendidik para anak-anak kesatria yang bakal di suwitani.
“Ismaya , mbokmenawa bekal yang ulun beriken kepadamu ulun rasa sudah cukup untuk menghantarken kalian sebagai insane kamil, untuk itu Ismaya dua hari kemudian kalian harus meninggalkan tempat ini, terus pergilah ke Kahyangan Pangudal-udal..”
“Lho kok ke rumah pikulun Narada ?”
“ Hiya Petruk, ndik sana Begawan Kamunayasa tengah menunggu kalian semua, untuk itu Petruk , kamu ulun percaya membawa SK Wahyu Witaradya ini, nanti beriken kepada Resi Narada biar wahyu ini diberikan kepada Begawan Kamunayasa, sebab dialah yang mempunyai nomer pin-nya”
Tanpa banyak membuang waktu Petruk segera meneima SK tersebut, kemudian bersama dengan Ki Lurah Semar, Gareng , dan Bagong segera berpamitan menuju kahyangan Pangudal-udal. Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar