Selasa, 23 Juni 2009

Terbakarnya Lantai 8 Swargadahana Oleh: Ki Setyo Handono

Prabu Anom Gatutkaca segera menggeser tempat duduknya, kemudian membenahi rompi anti peluru bergambar sinar matahari , dia berjalan mundur sambil lampah dhodhok memberikan sembah
”Kalau begitu Wa, kula tunggu di luar, ... Kangmas Paranggaruda dan Paman Swalabumi ,sorry saya mau menunggu di teras saja…” , pinta Prabu Anom Gatutkaca sambil menenteng HP terbarunya.
”Oh iya yayi Prabu, sebentar lagi aku juga segera pulang kok”
”Lho kok ndak berlama-lama di sini”
”Ora yayi, aku ada perlu arep ndaptarne keponaamu sing nomer papat ning SMP berstandar internasional, Paranggaruda sana...”
”Demikian juga paman ngger, aku juga ada perlu untuk segera pulang, ... mau mbayar pajak di samsat..”, jelas Setyaki sambil menunjukkan STNK sepeda motor cekeh keluaran tahun enampuluhan.
”Kulup Samba dan yayi Setyaki, kalian aku beri tugas piket, menggantikan tugasku mengawasi jalannya pemerintahan, sebab sekarang juga aku harus menuju Ngamarta, awasi dengan ketat seluruh pegawai pemerintahan baik di daerah maupun yang ada di lantai delapan, jangan biarkan mereka keluyuran di warung-warung, di pasar loak, di losmen-losmen, ataupun di tempat perbelanjaan pada jam-jam kerja, kerahkan Satpol PP untuk melakukan penertiban ...”
”Nuwun inggih , sendika ngestoaken dhawuh, dewaji”
”Demikian juga kami Setyaki, siaga selalu kaka Prabu”

Tidak lama berselang, suasana istana Dwarawati menjadi sepi. Prabu Kresna segera bergegas meninggalkan istana menuju Ngamarta bersama dengan Prabu Anom Gatutkaca. Keduanya terbang hingga ketinggian 10.000 kaki melanglang angkasa dengan kecepatan melebihi pesawat supersonik, nyaris semua radar yang canggih sekalipun tidak mampu menangkap keduanya. Keduanya memang penerbang yang telah memperoleh seribu limaratus jam terbang, sebuah prestasi yang belum ada tandingnya. Angkasa pagi itu terasa dingin, angin dari selatan tersa amat kencangnya. Sementara di bawah sana banyak umat manusia yang tengah mengadakan pesta pernikahan untuk putra-putrinya. Memang bulan itu dipercaya sebagai bulan baik, walaupun hanya mitos yang tidak ada dasar hukumnya, sehingga cukup membuat pusing bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan sementara ulem-ulemnya menumpuk di meja. Apakah mereka tidak pernah membuktikan bahwa di luar sana ternyata semua hari baik ?, pernahkah mereka merenungkan untuk tidak ’membisniskan pesta pernikahannya ?’. ”Ah inilah barangkali jaman telah rusak, manusia berebut serakah, mencari untung di balik sedekah, ah dasar serakah... ”, batin Prabu Kresna .

Sementara itu lain lagi keadaannya di Swargadahana . Remaja-remaja di sana tengah asik dengan dunia gemerlap, atau ’dugem’. Mereka berpesta pora menghambur-hamburkan uang pemberian orang tua untuk pesta minuman keras, narkoba, seks bebas dan untuk pembuatan video porno yang akan disebarkan kepada pelajar dan generasi muda. Satu tujuannya, yaitu agar generasi dan negara menjadi rusak. Sedangkan tidak jauh dari diskotik, dan pusat hiburan malam tepatnya di Swargadahana lantai delapan, Sang Harjuna tengah berasyik ’masyuk’ melepas dan menancapkan panah asmara yang tengah membara. Dewi Dersanala nampak tersenyum pasrah, dia memeluk erat kekasih hatinya. Dia pasrahkan seluruh jiwa raganya , sementara burung-burung gereja yang menyaksikan lewat lobang-lobang angin hanya kelihatan mengulum air liur, satu persatu berdatangan , kemudian mereka terbang menjauh dengan membawa kekasih barunya terbang menjauh mencari tempat-tempat rindang, seperti pohon akasia, ruang parkir, pinggir pantai, toilet, losmen luar kota, serta ruang-ruang yang jarang dilewati orang pada saat jam-jam tersebut, semisal mushola atau ruang-ruang lobi. Yah !, cinta kilat, memang memerlukan waktu kilat untuk melepas napsu syahwat, Jrat !!!, njepat, muncrat !!, bagaikan ulat tersengat strum 220 volt, satu hidup satu mati. Yang kesetrum mati, menahan malu, tapi yang nyetrum hanya cengar-cengir , besuk cari kesempatan yang lain lagi, katanya. Tak terasa waktu hampir dua jam Sang Harjuna bermain asmara, membuat udara lantai delapan panas membara, dari kejauhan nampak asap membubung. Kontan para dewa yang lagi ’work shop’ di sana lari semburat memanggil petugas pemadam kebakaran. Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar