Selasa, 23 Juni 2009

Pagebluk Enterobahter Sakazaki

“Tandya bala Pandhawa mbyuk gumulung mangungsir, ring sata Kurawa kambah , ooooonnnnggggggggg…
“Eih thole , mbokmenawa awaknya dewe harus segera meninggalkan Alang-alang Kumitir , makanya ayo semua segera dipersiapkan jangan ada yang tertinggal”
“Oh iya Mo, awaknya dewe ndak boleh enak-kepenak ndik kene, ayo Kang Gareng, ayo Gong , mesakne para kawula ing Saptaarga pada hidup sengsara”
“Oh iyo Truk, ayo budal”
“Eh mesthinya kan ya pamitan dulu karo Sang Hyang Wenang, seperti orang ndak pernah makan meja sekolah saja, datang pergi ndak pake aturan…”
“Wis ta Mo sampeyan saja yang mewakili, aku hanya ngikut saja”
“Pikulun, mbok bilih anggen kawula sowan sampun sauntawis, gandeng SK Wahyu Witaradya sampun saya peroleh , mohon diijinkan kula sak rombongan nyuwun pamit”
“Semanten ugi kula-pun Petruk, Kang Gareng, dalah Bagong , nyuwun pamit, nyuwun tambahing pangestu, mugi-mugi kula sak rombongan slamet…”
“Iya Punakawan, jangan kau kurangi kewaspadaamu, sebab di tengah jalan banyak yang mengincar wahyu yang engkau bawa itu..”
“Nggih pikulun , kepareng …”
Keempatnya segera jalan jongkok menjabat tangan Sang Hyang Wenang . Semar nampak kikuk, lantaran pantatnya yang terlalu besar, sedangkan Gareng nampak terpincang-pincang lantaran kakinya yang cacat tetap dari lahir. Sementara Bagong nampak cengengesan ndak peduli dengan sopan santun yang mengikatnya. Keempatnya segera lenyap menyusup mega-mega musim penghujan yang berbarengan menghempaskan pesawat-pesawat komersil yang sudah uzur dimakan wereng coklat.
Sementara itu sepeninggal Punakawan , Sang Hyang Wenang nampak terkejut dengan kehadiran tiga orang wayang ….
“Hong awignam astu, ulun lihat ini seperti Kamunayasa, Bambang Sekutrem, dan Cantrik Supalwa yang datang..”
“Betul pikulun “
“Ada perlu apa kamu Kamunayasa, apa mau merebut Wahyu Witaradya ?”
Ketiganya terperanjat kaget, ternyata niat busuknya sudah diketahui oleh Sang Hyang Wenang. Nampak buliran keringat mulai membasahi tubuhnya.
“Ketahuilah Kamunayasa, wahyu itu itu sifatnya tidak sembarang orang bisa dan kuat menerimanya, hanya orang yang berhati mulia , suci lahir dan batinnya , untuk itu mustahil jika orang-orang yang berwatak rakus, seperti produsen susu yang meracuni produk susunya dengan bakteri akan menerima wahyu ini, untuk itu kamu jangan berpura-pura menjadi Begawan Kamunayasa, hayo segera buka topengmu, sebelum ulun masukkan neraka jahanam !!!”
“Aduh pikulun…”, “Aduh pikulun”, “Aduh pikulun “
Ketiganya roboh seketika. Begawan Kamunayasa berubah wujud menjadi Dewa Srani, Bambang Sekutrem berubah jadi Bethara Kala, sedangkan Cantrik Supalwa berubah wujud menjadi Bethari Durga…
“Wis ngger hayo mlayu wae, hayo dikejar wahyu saing dibawa oleh kakang Semar itu , jangan kawatir emak masih punya senjata biologis yang ampuh untuk menggagalkan turunya wahyu itu"
“Apa itu ? “
“Entero Bachter Sakazaki “ Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar