Selasa, 23 Juni 2009

Krisis Keteladanan Ki Setyo Handono

Ngamarta, Ndwarawati, benar-benar berduka. Bencana silih berganti menerpa seakan tiada henti. Para punggawa negari, para kaum berpunya, terlena dengan kesenangan dunia. Menindas kaum papa, menginjak-injak norma, lecehkan martabat manusia dengan berbagai cara. Mereka lupa bahwa dunia hanya tempat sementara. Mereka lupa bahwa nyawa sebentar lagi lepas dari raga. Bencana tidak membuat jera, tetapi kemaksiatan semakin menggila. Para pejabat giat berebut berkat, orang kaya gila menimbun harta, pangkat jabatan jadi rebutan, obral janji menjerat simpati, barangkali jadi gubernur, bupati atau menteri, kan kutimbun negri dengan amal bakti, sekolah murah, berobat murah, angkutan murah, bahan bakar murah, sandang pangan murah, dan pelayanan kepada masyarakat mudah. Tapi mana semua janji, terkubur dalam surga singgasana. Memang rakyat kita ndak pernah menuntut janji ketika pilkada, mereka adalah persatuan bangsa-bangsa pelupa. Mereka ndak kuasa melihat program-program bijaksana, ada uang abang ku sayang, apa susahnya lha wong nyblos biasanya kehilangan, tapi yang nyoblos ini malah dapat komisi, lumayan kan ?.
Sudahlah , walau bencana terus menyapa, tapi masih banyak juga pejabat yang hidup bahagia. Sementara bagi mereka orang yang ndak punya kita lupakan saja, toh masih ada sanak saudara yang peduli dengannya. Kalau seandainya toh tidak ada yang memperhatikan sama sekali, yah kita syuting saja di media tipi nasional, beres kan ?.
Kita tinggalkan dulu manusia-manusia penyebab hancurnya dunia, kita tengok kembali drama bersahaja tentang kabut yang melanda sebuah negara.

Sepulang Ki Lurah semar dari Dwarawati, tampak di halaman istana datang seorang pemuda berbadan tegap, kulit sawo matang, menggunakan baju ontokusumo, di bagian dada ada gambar sablonan bentuknya seperti sinar matahari. Kalau orang yang ndak paham itu adalah lambang salah satu parpol atau lambang organisasi keagamaan. Bukan, dia adalah ’satria baja hitamnya ’ wayang . Dia benar-benar manusia yang terbuat dari besi. Pantas dia nggak berani hujan-hujan, takut badannya semua karatan. Salah-salah malah jadi barang rosokan.
”Kalau ndak salah lihat ini seperti putraku Raden Haryo Gatutkaca...”, sapa Prabu Kresna sambil membenahi kaca matanya yang baru saja dibenahi oleh tukang kaca di toko sebelah rumahnya.
”Nuwun inggih wa, niskala pisowanan saya , tidak lupa hormat bakti saya wa”
”Hiya...ya..., ngger , aku terima dengan tulus darma baktimu, tidak lupa terimalah pangestuku, ya ngger Tetuka”
”Dahat katedha kalingga murda wa, semoga menambah kebahagiaan dan keluhuran budi ananda di Pringgondani”
”Yayi Prabu, raharja kedatanganmu di Dwarawati ?”, tanya Raden Samba .
”Inggih kakangmas, raharja pisowanan adinda Pringgondani, tidak lupa sembah bakti saya kepada kakanda Samba di Paranggaruda.
”Hiya ..ya dimas, kuterima sembah baktimu, tidak lupa pangestuku terimalah ...”
”Ngger anak prabu , bagaimana keadanmu, baik bukan.., sudah , nikmatilah dan teruskan obrolanmu”, potong Setyaki sambil mematikan rokok bermerk terkenal di Dwarawati.
”Sepertinya tidak ada yang tidak nyaman, semuanya dilayani dengan baik sekali, terimaskasih paman”
”Maaf ya Kaki Prabu, terus apa maksud kedatanganmu di Dwarawati ini, segeralah sampaikan ya ngger...”

Hanjrah ingkang puspitarum, kasliring samirana mrik, oooong...., sekar gadung kongas gandanya... oooong...maweh raras renaning ndriya...oooong...............

”Wa Prabu...Wa Prabu..., sedih sekali hati kami jika menyaksikan bencana dahsyat yang melanda Ngamarta , sepertinya belum ada tanda-tanda mereda , malah-malah sekarang ini para pemuda ABG, banyak yang meninggalkan ajaran-ajaran agama. Jilbab dengan yang tidak pakai jilbab kelakuannya hampir sama, mereka rama-ramai berbuat asusila, begitu surat pengumuman lulus mereka semprot-semprotan di seluruh kujur tubuhnya. Mereka kemudian berfoya-foya keliling kota sambil ngamplok kepada teman laki-lakinya tanpa malu, bahkan tidak itu saja masih dengan berjilbab mereka menenggak minuman keras terus pesta seks seperti binatang. Bahkan sinuhun, pamitnya kepada orang tua yang jauh di pelosok sana bersekolah, tapi di kota malah asyik mengobral syahwat dengan lelaki hidung belang, oh Wa Prabu , banyak dari mereka kini putus sekolah alias drop short eh drop out...”
”Yang ingin saya tahu itu, bagaimana kabarnya pamanmu si Arjuna ngger ..”
”Oh sorry Wa, saya ngelantur. Inggih , sudah tujuh bulan alias satu semester lebih satu bulan ini Paman Harjuna memadu asmara dengan mantan sekretaris pribadinya yaitu Bethari Dersanala, di kahyangan Swargadahana. Bagimana ini, padahal Paman Harjuna itu kan juga termasuk wakil rakyat, apakah tidak malu orang sedunia melihat adegan mesra dengan bukan mukhrimnya ?”
“Itulah wakil rakyat kita, apa-apa sudah punya , tinggal satu yang tidak punya yaitu malu !”, desah Kresna.
“Sehubungan dengan itu Wa, menawi mau, sekarang juga Wa Prabu aku hantarkan ke Ngamarta untuk meredakan musibah ini…”
“Ngger Tetuka, kamu jangan bersu’udzon dengan pamanmu Harjuna, itu semua memang sudah menjadi jalan untuk menghentikan semua musibah ini. Berhubung kedaan Ngamarta semakin gawat , maka hayo ngger, jangan terlalu lama berdebat, hayo sekarang juga kita terbang ke Ngamarta”
“Oh !, mangga Wa kula dherekaken …” Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar