Selasa, 23 Juni 2009

Bathara Darma Winisuda Ki Setyo Handono

Pagi itu sudah tiba saatnya wisuda dan pelantikan Bambang Sekutrem mendapatkan gelar Bethara Darma dimulai. Suasana menjadi hening seketika. Para undangan mulai dari adipati hingga lurah dan ketua RT se Kabupaten Alang-alang Kumitir hadir semua. Nampak juga para politisi wakil rakyat duduk di tengah-tengah undangan, sambil menikmati tidurnya dengan pulas, setelah semalaman kluyuran menghambur-hamburkan honor sidang pleno PERDA (PERumusan Dum-duman Anggaran), di hotel-hotel setempat. Mereka ndak peduli dengan acara yang baginya tidak menarik blas, biarlah media masa menyorotnya, paling-paling mereka bosan sendiri, wakil rakyat harus kebal ndableg dan menghindari sifat malu, jawabnya dalam hati ketus.
Sementara itu di luar arena sidang, nampak kerumunan LSM sedang membuat acara terpisah, syukuran atas kepindahan kepala pengadilan yang arogan. Mereka berharap kepada pengganti yang baru lebih lunak, alias Lumayan eNak, sehingga luar dalam menjadi nyaman. Tidak beberapa lama kemudian dari dalam gedung terdengar pembawa acara wisuda membacakan acara , bahwa Bathara Narada segera mewisuda Bambang Sekutrem menjadi Bethara Darma. Hadirin nampak berdiri. Seluruh undangan nampak berseri-seri dengan mengenakan jas pejabat dan berdasi. Kontan seluruh punggawa LSM semburat menyaksikan prosesi tersebut. Hanya mantan Adipati Alang-alang Kumitir yang ndak kelihatan batang hidungnya. Dia mungkin sengaja tidak hadir setelah ketahuan bahwa dirinya korupsi mengenai pengadaan seragam Hansip. Kini yang menjadi tertuduh hanyalah orang-orang yang ndak tahu permasalahannya.
Alunan gamelan segera terdengar melembut syahdu. Ki Dalang Megelne Ati, segera mengalunkan suluk sebagai pertanda prosesi puncak dimulai. Gendhing Pathet Lasem terdengar melemah, “Ong…ooongggg, dene utamaning nata, berbudi bawa leksana, Oooong, lire berbudi mangkana, lila legawa ing ndriya, hanggung denya paring dana, hanggeganjar sabendina, lire kang bawa leksana, hanetepi pangandika… Ooooong … ooong.
“Pragenjong-pragenjong pak..pak pong anggota dewan udele bodong, matane ngantuk pikirane kosong, theklak-thekluk ora isin dideleleng wong, usulane mung kanggo kanthong, esuk ngomong sore bolong, kanthong bolong pikirane mung nyolong….heh Bambang Sekutrem ngger, mbokmenawa Jawata sudah menakdirken kepadamu ngger, dene hari ini Kemis Kliwon pitulas April mbarengi terbite Koran iki, jeneng kita antuk penghargaan tertinggi dari jawata, berupa gelar baru yaitu Bathara Darma. Gelar ini amat pas nggo awakmu minangka penghargaan atas prestasimu mengalahkan musuh-musuh dewa di Kahyangan Suralaya ini, untuk itu ngger Bethara Darma, Pimpinan Pusat Kadewatan telah menetapkan kepada siapa saja yang menerima gelar ini, kelak besuk akan menurunkan raja-raja di tanah Jawa yang unggul dan berbudi bawa leksana, berhubung yang menerima awakmu maka secara otomatis maka kamu besuk bakal memperoleh keturunan yang luhur itu …”
“Aduh pikulun …, tidak bisa terbayangkan betapa bahagia hati kami, ibaratnya seperti tertimbun guguran bunga melati, tersiram lautan madu, hati hamba jadi teduh dan bahagia, pikulun . Hamba hanya mengucapkan ribuan terima kasih dan syukur sedalam-dalamnya ….”
“Eih …eih mbregegeg ugeg ugeg sakdulita hml…hml…, semono uga aku Nerada, aku sak omah juga ikut berbahagia atas pemberian gelar ini, untuk itu Nerada aku , Semar , dan seluruh anakku berjanji bakal mengawal dan mengabdi kepada anak turun Bethara Darma , menjaga dari mara bahaya dan melindungi dari semua perbuatan-perbuatan jahat, untuk itu ngger Gareng, Petruk , dan Bagong, tugase awaknya dewe hayo segera kita antar Bathara Darma pulang, memperbaiki moral-moral penduduk sana yang telah rusak…”
“Weeeee, mbok ya jangan kesusu ta kakang, hidangannya belum dikeluarkan, la mbok besok pagi saja , nanti kan masih ada hiburan Seleb Show, ha…ha…ha..”
“Eh ora Nerada, aku kudu ndang mulih, eh hayo thole podho pamitan karo om-mu Bandhul Nerada “
“Pikulun , kula Petruk, Kang Gareng dan Bagong nyuwun pamit “.
“Eh Nerada, ini sajaknya aku wis entuk gawe, bendaraku Bambang Sekutrem sudah dapat anugrah dewa, mula saka kuwi aku sak rombongan bakal njaluk pamit, mesakkan kawula Saptaarga sing lagi nandang sengsara, wis Nerada, aku pamit “
“Oh iya kakang , aku mung muji muga-muga kakang slamet …, salamku wae untuk semuanya “ Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar