Selasa, 23 Juni 2009

Batara Darma

“Hong thethe dewangkara Rudra manik raja dewaku , ini seperti Drs. Dewa Srani , M.Si. putraku yang datang, kulup ngger Dewa Srani kepriye ngger apakah wahyu Witaradya berhasil kamu dapatken….”
Oooonggg, surem ..surem diwangkara kingkin, lir manguswa kang layon…..denya ilang kang memanise, wadana- nira layung kumel kucem rahnya maratani, ooooong…..
Dewa Srani tiba-tiba merangkul ibundanya, air mata kekecewaan telah membasahi baju PSH terbarunya. Bethari Durga tersenyum kecut, diraihnya anaknya dalam pelukannya. Dewa Srani bertambah haru, suara tangisnya tambah menjadi-jadi, Bethara Kala yang biasanya garang dan galak nampak terharu melihat tingkah polah ibu dan saudaranya itu. Bethara Kala ikut meneteskan air mata, diambilnya gombal lap lantai untuk mengusap mukanya yang basah oleh air matanya…, tapi dia tiba-tiba misuh-misuh lantaran lap lantai yang dipakainya ternyata terdapat tai kucing yang masih basah….”jiangkrik asu edan !!!, gobale penuh tai kucing !”, desah Bethara kala sambil lari ke jading.
“Sorry mami, anakmu gagal mendapatkan wahyu Witaradya, aku kalah voting melawan Begawan Kamunayasa…”
“Hong thethe dewangkara Rudra manik raja dewaku , ngger Srani, awakmu jangan kuwatir ngger, mami akan selalu berusaha agar wahyu itu bisa diberiken kepadamu, untuk itu ngger, kamu berdua ndak usah ikut mami, mami akan langsung merebut wahyu itu di kahyangan Pangudal-udal, wis ya ngger hati-hati di rumah, jaga seluruh pintu masuk, hati-hati jangan menerima tamu sembarangan, matikan kompor dan berhemat penggunaan listrik, mami akan pergi “
“Ya mami “
Bethari Durga segera melesat terbang menuju kahyangan Pangudal-udal , untuk membuat keonaran, melobi tokoh-tokoh di sana agar mau menuruti niatnya memboyong wahyu Witaradya yang bukan menjadi haknya. Memang tokoh yang satu ini licik, bengis dan pinter adu-adu, tak heran jika banyak pejabat atau pimpinan pusat yang goyah imannya.
Sementara itu di DOME kahyangan Pangudal-udal suasananya nampak meriah. Para undangan nampak berbusana adat daerahnya masing-masing, Semar , Gareng , Petruk, dan Bagong kelihatan duduk di kursi undangan paling depan, didampingi Resi Narada. Undangan pada waktu itu disuguhi hiburan group Band BBM Semakin Langka, penyanyi wanitanya cantik-cantik, pengiring musiknya kelihatan profesional sekali, maklum jika sekarang tanggapanya selangit, orang kecil nggak bisa menjangkaunya
“Gong, sejak tadi kamu itu kok nggak bisa diam to ?“
“Ah !, ini lho Truk, baju jas-nya terlalu ketat, perutku mbledeh, udelku kelihatan, napasku jadi sesak, sementara acaranya ndak dimula-mulai, jam karet, jam kolor terus membudaya molor, ayo Truk bilang sama pikulun Bandhul Nerada, acaranya ndang dimulai, aku sudah ndak betah “
“Iya Truk cepat bilang sana pada ulun Narada, aku jga ndak betah, jasku kebesaran, celananya kedodoran” ujar Gareng sambil menahan celana panjangnya yang bolak-balik melorot.
“Huuuuuuu, mbregegeg ugeg-ugeg sak dulita hemel…hemel … he thole kamu jangan membikin kemaluan , hayo duduk !, lihat sana pembawa acaranya segera memulai acaranya”
“Iya Mo”
Hadirin segera menghentikan canda tawanya. Pembawa acara dari stasiun televisi lokal nampak membacakan secarik kertas, tata upacara penyerahan SK Wahyu Witaradya segera dimulai. Begawan Kamunayasa, Cantrik Supalwa, dan Bambang Sekutrem nampak duduk di kursi VIP didampingi oleh Resi Narada. Wajahnya nampak berbinar bercahaya ceria. Begitupun Sang Resi Kanekaputra alias Narada, wajahnya nampak ceria, ditambah baju warna merah yang bermotifkan kembang, menambah keceriaan itu semakin berbunga-bunga. Tidak beberapa lama protokol memberitahukan bahwa acara pertama adalah sambutan yang akan disampaikan Pikulun Narada. Hadirin diminta berdiri. Spontan merekapun berdiri, Pikulun Narada yang cebol nyaris tidak nampak ketika beliau berjalan di tengah para undangan. Hal ini tentu saja menyulitkan para juru kamera yang mau mengabadikannya.
Dalam sambutannya Resi Narada menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan wayang. Beliau meminta kepada yang kalah voting agar merelakan dengan tulus dan ikhlas, bahwa semua itu sudah diatur oleh Sang Hyang Wenang, seorang wayang harus menerimanya , sebab sifatnya wahyu tidak bisa diminta, akan tetapi akan diberikan langsung oleh Sang Hyang Wenang kepada siapa saja yang pantas dan berhak, atau kewahyon. Dalam akhir sambutannya beliau membacakan SK. Pimpinan Pusat Kahyangan Alang-alang Kumitir, bahwa wahyu ditetapkan kepada Bambang Sekutrem putra Begawan Kamunayasa. Hadirin menyambutnya dengan tepuk tangan meriah sekali.
“Hadirin, fadilah wahyu Witaradya ini adalah kelak nantinya Bambang Sekutrem akan melahirkan tokoh-tokoh satriya yang memiliki keunggulan dan kompetensi yang luar biasa, untuk itu kepada kamu ngger Sekutrem atas nama dewa-dewa di Kahyangan, ulun mengucapken selamat atas anugrah ini, dan ulun tadi pagi mendapatkan tlepon dari Sang Hyang Wenang, bahwa kamu juga mendapatkan gelar mulia dengan sebutan nama baru “Batara Darma”, karena kamu sudah banyak darmanya kepada kahyangan, kamu telah berhasil menumpas teroris yang membahayakan kahyangan, untuk itu ngger mulai hari ini awakmu mempunyai nama baru yaitu Betara Darma, dan kepada petugas catatan sipil, agar segera membukukan nama ini kedalam catatan resmi “. Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar