Senin, 15 Juni 2009

Ajar Menejemene Wong Jawa

Pesta Grebeg Sura, baru saja usai. Dari tahun ke tahun temanya amat membosankan. Nuansa Islami yang melatari ritual itu sudah dinyatakan krodit alias amblas tanpa bekas. Kesan hura-hura, jor-joran pemborosan biaya karnaval yang hingga puluhan juta bahkan hingga ratusan juta nampak di pelupuk mata menjadi ajaran yang jauh dari nilai-nilai agama, bangga, congkak, riak, takabur hingga sampai meninggalkan kewajiban lima waktu untuk beribadah sesuai dengan nilai Islam. Ironisnya justru kalangan pendidikan yang menyalakan api jor-joran kemewahan tersebut. Padahal kalau kita runut ke belakang, sejarahnya Bathara Katong atau siapapun yang pindah dari kota lama ke kota baru kemudian dibarengkan dengan awal tahun baru Hijriah, jelas bukan tanpa ’waton’. Yang pertama adalah agar nilai Islam lebih mewarnai kemudian bisa membumi di Kadipaten Ponorogo pada waktu itu. Kedua, agar kepindahan itu bisa dicatat sebagai ikrar tradisi yang ingin mengikuti ajaran Nabi yaitu hijrah dari perbuatan jahiliyah menuju kepada ajaran Islam yang murni. Dan merekapun boyong dibarengi dengan laku prihatin yang sarat dengan nilai sakral dan ke-khidmadan yang tinggi. Mereka tetap bedzikir, eling kepada Kekuasaan Yang Maha Wikan. Hening, heneng, jauh dari kesan hura-hura, jor-joran kemewahan, jor-joran kemegahan dan pamer keunggulannya. Mereka sayuk saeka kapti, sama rasa, sama-sama berjuang untuk mengalahkan hawa nafsu, menjauhkan sifat-sifat tidak terpuji yang dilarang oleh Islam. ”Namun memprihatinkan kini, ajaran-ajaran setan bekasaan telah merambah dunia pendidikan, anak-anak telah digiring dan direcoki dengan paham-paham glamour gemerlapnya dunia fana. Mereka telah dibentuk dengan rasa-rasa keakuan yang menyesatkan. Mereka telah ditanamkan perasaan untuk selalu mengalahkan dan merendahkan orang lain, kurang ajar !!” sergah Panembahan Dewa Resi seusai melihat tayangan ulang Grebeg Sura di wilayahnya.

Sementara itu jam di pertapan Ngawiyat sudah menunjukkan pukul sebelas tigapuluh , sebentar lagi sembahyang Lohor segera dilaksanakan. Para Punakawan nampak ngantri di tempat ’padasan’ bergiliran bersuci.
Seusai mereka sembahyang berjamaah, Panembahan Dewa Resi seperti biasanya langsung memberikan wejangan kepada para cantrik yang ada di padhepokannya. Namun kali ini para cantrik itu sedang pulang kampung, liburan semester. Dan kini mereka diganti oleh para punakawan.
”Petruk, Gareng dan Bagong, hayo mendekat kemari”
“Inggih Panembahan...”
“Aku bakal nerusken kembali bab kepemimpinan nurut ajaran Jawa ya?”
“Inggih Panembahan”
“Prayogane padha dicathet, aja nganti mung dirungakne, mengko mundhak lali”
“Inggih panembahan, kula sampun sumadiya”
”Bagus”
Panembahan Dewa Resi kemudian mengambil secarik kertas kerpekan dari kantong jubahnya.
”Kawruh menejemen manut cara kejawen itu ada tiga perangan. Yaitu; 1) Kantha , artinya rencana /program kerja yang sudah dipersiapkan secara matang akan tetapi masih bersifat abstrak, 2) Kanthi, artinya semua rencana hanya bisa diwujudkan jika ada yang melaksanakan, dan ada sarana dan prasarana yang memadai, lha untuk mewujudkan ini ada tiga perangan yaitu guru bakal, guru dadi, dan bahu suku kang awujud sumber daya manusia yang memiliki ; a) guna, kaya, dan purun. Guna ateges bisa ngrampungi gawe alias terampil trengginas. Kaya ateges ora milikkan, yen ana barang kang aji ltidak kepingin digawa mulih, purun ateges besar rasa tanggungjawabnya, 3) Tata titi, tegesnya tata runtut manut waton, artinya sesuai dengan peraturan, sedangkan titi berarti pekerjaannya dilaksanakan dengan tekun tanpa mengalami kesalahan. Untuk itu ngger, menawa kowe dadi pemimpin aja nduwe rasa isin menawa pingin bertanya-tanya ngenani bab apa saja kepada bawahan sekalipun. Turunlah sedekat-dekatnya kepada semua pihak, lha yen perlu ajaklah mereka berembug apa saja demi kemajuan pemerintahanmu. Dadi pemimpin aja bisane mung prentah wae, kowe kudu bisa dadi suri tauladan, becik trapsilane, andhap asor, ngerti unggah-ungguh, basane jangkep, semua ucapan enak bila didengarkan/ tidak menyakitkan atau menjatuhkan orang lain.....”
”waah Panembahan, semua yang panjenengan ucapkan benar-benar amat menarik, tapi rasanya sulit dilaksanakan”
”Mula kowe ya aja gumampang maju dadi anggota dewan, sebab...”
”Sebabe apa?”
”Suk neraka iku nomer loro sing akeh dewe penghunine yaiku saka anggota dewan lho Truk”
”Kok isa?!”
”Lha hiya ta, lha senengane ngumbar janji, nalika kampanye kae, jebul bareng wis dadi, mak busssss, wujude wae ora ana babar blass, paling mung stiker karo rokok sak conthong sing ana gambare dekne, lha ya ngono kuwi apa ora ateges neraka jahanam. Ya yen sak iki dewekne durung ngrasakne, nanging aku niteni kok para manungsa keparat kuwi yen tuwa akeh-akeh lara diabet, kencing manis, strup... eh seteruk, sikile kriting kaya Gareng iki lho...”
”He !, kowe mau cangkemu muni apa, oooo tak pathak raimu engko” sergah Gareng emosi
”Wis...wis aja padha padudon, kabeh mau ciptaane Gusti Alloh, aja pada ejek-ejekan, hayo saiki padha mangan...” potong Panembahan Dewa Resi mengingatkan.
Tanpa dikomando Bagong langsung lari menuju dapur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar