Senin, 15 Juni 2009

Siap Menang dan Siap Tidak Kalah (1)

Jumangkah hanggra sesumbar, lindhu bumi gonjing, gumaludhug guntur ketug, umob kang jaladri oooooong....

”Eih mbregegeg ugeg-ugeg sak ndulita hemel....hemel..., heh Manikmaya, sapa sing nandur bakal ngundhuh, sapa sing nggawe patrap ala bakal kawistara, eh ngger putuku Wisanggeni, sira aja wedi kangelan, kahyangan Suralaya obrak-abriken, Bathara Guru , Brama lan Indra cekelen lebokna pakunjaran, ... eh aku ngramalake menawa iki mengko bakal tambah gayeng, aih ... ben padha dirasakne , wong tuwa ben digawe wirang karo bocah cilik, aih... yen ora ngono podho hora kapok, ngger Wisanggeni , Semar ora bakal adoh saka anggamu ngger, aih... bakal tak tontone wae saka kadohan, kaya ngapa polahe Bathara Guru sak anak-anake”

Kyai Semar segera melesat bagaikan sinar laser yang keluar dari moncong kamera, plasss !!!, hanya sekejap saja tubuh tambun yang mendekati obesitas itu lenyap dari pandangan mata.

Sementara itu suasana di kahyangan Suralaya nampak sedikit diselimuti mendung. Badan meteorologi dan geofisika meramalkan bahwa banjir kiriman yang bakal datang dari puncak Mahameru kemungkinan akan merendam kawasan bandara, serta Istana Kadewatan yang saat ini dihuni oleh para pentolan dewa yang tengah menguasai jagad raya. Dan konon para dewa-dewa inilah yang disinyalir ikut ambil bagian dalam rusaknya keadilan di Mayapada. Mereka telah berbuat curang, tidak adil, HUKUM telah dipelesetkan menjadi akronim Hadirkan Uang Kalau Untuk Menang, sedangkan HAKIM , Hubungi Aku Kalau Ingin Menang. PIDANA, Pira Danane Inilah hukum telah dipermainkan oleh para pelaku hukum sendiri. Mereka hanya berpihak kepada yang beruang saja. Siapa yang ndak gableg jangan bermimpi dapat keadilan. Ada pepatah , ORANG BESAR tak pernah bersalah, rakyat jelata tempatnya sengsara. Ungkapan ini sudah pas dengan kondisi saat ini.
Siang itu di balai Marcukundamanik, Hyang Jagad Pratingkah, ya Hyang Jagad Giri Nata, ya Sang Hyang Caturbuja, Sang Hyang Trinetra, ya Hyang Hodipati, Pasupati, Sang Hyang Manikmaya alias Bathara Guru, tengah bercengkrama ditemani oleh Bathara Brama dan Bathara Indra di bangsal rumahnya. Siang itu menu siangnya sop buntut, es degan, dan buah rambutan yang kebetulan lagi musimnya. Sedangkan menu televisi yang mereka lihat adalah ’pojok kampung kahyangan’ yang siang itu tengah meliput penghitungan terakhir secara manual hasil pemilihan gubernur di wilayah Kahyangan Timur. Wajah Bathara Guru kelihatan muram, ia tidak percaya kalau jago quick count-nya kalah dengan menyakitkan. Bathara Indra dan Brama memilih melahap singkong rebus yang tersedia di atas meja, daripada melihat wajah Bathara Guru yang lagi sungkawa. Namun baru saja tangan-tangan itu mau meraih kue-kue di atas meja, dari luar tiba-tiba ada anak kecil, yaah kira-kira seumur anak play Group-lah, nyelonong sambil mematikan televisi dan mengobrak-abrik seluruh makanan di atas meja. Kontan tiga pembesar dewa itu menjadi kaget dan murka.

Buta Pandhawa tata gati wisaya, indriyaksa sara maruta, pawana bana marga, samirana warayang, panca bayu wisikangulungan lelima... oooonng

”Heh jebul ning njero ngomah iki ana Dewa tangan papat, he dewa tangan papat siapa namamu dan siapa dua dewa jelek yang ada di belakangmu itu?”
”Ohmmm, swasti astu..., lagi iki ulun dijangkar karo bocah, iki kok ada titah bocah kang tidak punya tata krama, yo ! lamun jeneng kita menanyakan nama ulun, ya ulun ini kang wewisik Bathara Guru..”
”La terus yang dibelakangmu itu siapa ?” tanya Wisanggeni
”Nama ulun Bethara Indra, sedang yang di samping ulun ini Bathara Brama, terus jeneng kita siapa ? mau apa masuk di pendapa ulun ini, ?”
”Heh !, para dewa jelek !, namaku Raden Wisanggeni, tujuanku ke sini mau mencari dewa bertangan empat, dan menanyakan siapa orang tuaku yang sebenarnya, sebab dia adalah ratunya dewa pastilah ia mengetahuinya. Dan sekarang ternyata dewa empat iru sudah aku ketemukan maka heh Bathara Guru hayo tunjukkan kedua orang tuaku sekarang ada di mana, kalau kalian bertiga tidak mau menunjukkan maka kalian aku hajar semua !”
”Heh Wisanggeni cumengklang sesumbarmu !, seperti bisa menjilat besi yang terbakar saja, apa yang kamu andalkan untuk mengalahkan kesaktian para dewa ini, jangankan kamu yang kecil ini, oh titah sak jagad ndak ada yang bisa mengalahkan dewa” tantang Bathara Indra
”Heh Bathara Indra !, majua bareng leganing atiku, oo klakon ana dewa sing ndak nggo bal-balan ....”
”Mangko disik ngger Indra, sebelum kalian bertarung, ulun punya usul , lebih baik kalian mengadakan MoU, kesepakatan bersama yang nanti disiarkan melalui media cetak dan elektronik, atau ikrar bersama ’ SIAP Menang dan SIAP Tidak Kalah’ ini lebih baik ngger, sebab jangan sampai almamater kadewatan dikalahkan begitu saja oleh titah sekecil apapun, maka dari itu ngger buat dulu kesepakatan dengan Wisanggeni ..”
”He bocah cilik, kamu sudah mendengar sendiri ta permintaan pukulun ?, untuk itu nota kesepahaman ini tidak boleh dilanggar nantinya. Intinya kamu boleh berperang dengan kami dengan catatan, tidak boleh ada pihak lain yang membantu, tidak boleh ada money politik, penggelembungan kawan, sing kalah legawa, sing menang ya tetap para dewa. Untuk itu tandatangani MoU ini , dan kalau kalian melanggar maka ulun berhak menggugat, kalau perlu ulun bakal laporkan ke Komnas Ham PBB”
Wisanggeni hanya plenggang-plenggong, mendengar pengarahan dari Bathara Indra. Baginya hanya satu tujuannya yaitu menghajar para dewa yang ada di depannya. Untuk tanpa ba-bi-bu, ketiga dewa itu langsung dihajarnya.
”Nyoh Bathara Guru, Indra dan Brama terimalah bogem mentahku ini !!!!”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar