Senin, 15 Juni 2009

Pil Pahit untuk Caleg

Myat langening kalangywan haglar pandam muncar , tinon lir kekonang surem saratin tan padang kasor lan pajaring purnameng gegana, oooong..., dhasaring mangsa katiga , hima hanawengi ring ujung ancala seneng hakarya wigena miwah isining wana , wreksagung tinunu, oooong....

Baru saja Wisanggeni dan Kyai Lurah Semar menginjakkan kaki di wilayah Ngamarta. Dia tidak njujug di pendapa agung, tetapi masih mampir di masjid salah satu universitas swasta Ngamarta, untuk menunaikan sembahyang Lohor. Lumayanlah bisa untuk melepaskan lelah, sambil mengenal perikehidupan universitas tersebut yang konon menggunakan semboyan ’kampus Islami’ yang konsisten meniru perilaku Nabi. Dari sana Semar ingin mengembangkannya di kelurahan Karangkedempel besuknya. Akan tetapi alangkah kecewanya, ternyata semboyan itu hanya ’semboyan setengah hati’, terbukti, masjid yang sebegitu besarnya, hanya segelintir mahasiswa dan dosen yang menghadirinya. Sedangkan yang lainnya lebih nikmat cangkrukan di serambi kampus, dan banyak pula yang ngerumpi di teras masjid. Dan yang lebih Ironis adalah keberadaan ’tandak musik dan gamelan reog’ yang tidak tahu ’wayah’. Mereka seakan tidak peduli dengan kondisi sakral yang harus dihormati sebagai saat-saat untuk manembah-manekung, membersihkan diri dari penyakit hati , mereka malah congkak menggeber musik dan gamelannya hingga mengganggu identitas kampus dan kenyamanan beribadah.
”Ngger Wisanggeni ?”
”Ada apa mbah ?”
”Ayo kita tinggalkan tempat ini”
”Memang kenapa mbah?”
”Aku kecelik ngger, ndak kira kene iki kampus Islami beneran, eee jebul mung lamis, apus-apus, coba ta delengen kae gamelan reog, musik kampus, terus berkumandang, terus kae ana dosen dan mahasiswa katon ora peduli karo panggilan sembahyang, waah sakjanya ya dosen agama lho ngger, wis ayo enggal nggoleki Bathara Guru ndik pendapa Ngamarta kana wae ngger...”
”Oh iya mbah hayo”

Kedua makhluk wayang itu segera meninggalkan ’kampus Islami’ menuju Pendapa Agung Ngamarta, untuk melacak keberadaan Bathara Guru yang terdeteksi melarikan diri ke sana.
Disepanjang jalan, Semar dan Wisanggeni nampak tersenyum kecut melihat kondisi para caleg yang kecele dengan hasil perolehan suara. Ada yang suaranya keras, lembut, mendayu-dayu, dan bahkan suara itu tidak terdengar sama sekali. Mereka menjadi mantan caleg yang ’nggondok’ dengan realitas masyarakat yang sebelumnya diprediksi menjadi pengagumnya, tetapi mereka ternyata mengkhianati isi kantong yang terlanjur ia kuras untuknya.’Team sukses dan masyarakat telah sukses menipu’ simpulnya. Itulah sebuah realitas yang kadang tidak menimbulkan jera bagi yang lain. Pemilu depan mesti banyak caleg-caleg karbitan yang menjadi korban. Dan merekapun akan terjebak dalam kubangan tipu-menipu, suap-menyuap, dan sebagainya, yang justru akan menambah deretan panjang budaya culas di negeri ini. Dan senyatanya, politik di negeri ini sudah bergeser ke dalam ranah politik pragmatis. Politikus lebih mengedepankan nafsu syahwatnya untuk menguasai jalur ekonomi dan kekuasaan, ketimbang memikirkan nasib rakyat yang kian miskin papa. Mereka lupa bahwa menjadi wakil rakyat itu tidaklah mudah. Ada prasarat yang harus dipenuhi, yaitu; kompetensi personal, kompetensi profesional, serta konsistensi sebagai penyambung lidah rakyat. Lha kalau salah satu saja tidak ada yang nyantol dalam dirinya, terus untuk apa menghambur-hamburkan uang berebut kursi di dewan. Mbok ya kalau diniati untuk sedekah nggak usahlah dibareng-berenghkan dengan masa pemilu. Saya kira itu lebih terhormat, dan masa anda secara otomatis akan semakin banyak. Ingatlah, bahwa kekuasaan itu jangan diburu, akan tetapi semua itu akan datang menghampiri orang yang amanah, kuat memikul tugas dan tanggung jawab. Hanya orang banyaklah yang dapat menilai, bukan perasaan Anda. Kalau diri anda memancarkan sinar, maka semua orang akan berebut terang di sekitar anda. Percayalah !!.
”Wah, mbah sampeyan kok ngelamun terus ?”
”Oh hiya Wisanggeni, aku iki mau lagi ngudarasa para caleg sing ketemben keok, kelangan sandang kelawan pangane, ... lha ya ngono kuwi akibate yen mung nggugu karepe dewe. Deweke ora nyana menawa masyarakat iku mung lamis, gelem nampa duwit saka sapa wae, nanging coblosan tetep ora bakal gingsir saka njeroning atine”
”Ngono ya ora kapok lho mbah”
“Aih, sing jenenge manungsa iku kapoke yen wis mati, lha yen ijik urip kahanan sing kaya mangkono iku durung bakal ilang”
“Betul mbah. Kalau begitu ayo segera kita mencari Bathara Guru”
“Eh hayo ngger, ndak ter-ne”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar