Senin, 15 Juni 2009

PEMILU

Meh rahina semubang Hyang Haruna kadi netraning anggarapuh , sabdaning kukilaring, kanigara kaketer, Oooong kini donganing-kung, lir wuwusing pinipanca , lan pepetoging ayam wana neng pagakan, mrak manguwuh bremara ngrabaseng kusumaring , wara baswararum oooong...

Ndak terasa, perdebatan yang memakan waktu berjam-jam itu telah merugikan kesempatan ketiga satria Pendawa itu, untuk menangkap Wisanggeni yang telah melumpuhkan birokrasi di Kahyangan beberapa hari ini. Hal itu terbukti bahwa nomer antrian yang ia dapatkan baru dilayani oleh Wisanggeni tepat ketika fajar menyingsing besok. Dan harapan itu kini tinggalah kenangan. Sebab di gerbang pintu itu, Wisanggeni telah menulis pesan di papan melamin, ’ Mulai hari ini praktek pengobatan ditutup total untuk selamanya, dan saya ndak tinggal ndik sini lagi, saya ke Marcapada !!!’
”Waaa Werkudara ...”
”Haaa, ana apa Jlitheng kakangku”
”Sajaknya awaknya dewe ora kasil Werkudara, coba lihatlah di depan gerbang itu Wisanggeni telah menulis pengumuman, bahwa dia tidak buka praktek pengobatan lagi, dia kini lari ke Mercapada..., dan aku punya insting kalau Wisanggeni bakal mengejar pikulun Bathara Guru di Ngamarta sana. Untuk itu Gathut, Dara, jangan terlalu lama bengong ndik sini, hayo Si Wisanggeni kita kejar..”
”Hiya, hayo ...”

Ketiganya segera berlari kencang, terbang menukik menuju Mercapada, alias daratan dunia. Hampir saja ketika tinggal landas sayapnya nyantol di bendera parpol yang sudah dalam keadaan ’kliwir-kliwir’ permukaannya sudah tidak berbentuk lagi, alias sobek semua terkena teriknya mentari dan hempasan angin pentil beliung yang tidak suka wilayahnya di pancangi bendera-bendera parpol yang tidak bermakna itu. Sementara Werkudara kakinya sempat nyanthol di baloho reklame dan sempat merobohkannya, namun karena ndak ada petugas yang ngonangi, Werkudara bablas terus tidak sempat melihat lagi keadaan dibawahnya. Sedangkan Prabu Kresna memilih terbang sambil menikmati kamera digitalnya, merekam keadaan di Kahyangan Suralaya, yang nampak semrawut. Beliau tidak menyangka bahwa kota yang baru saja menyabet penghargaan adipura itu tidak nampak adi-nya tapi hanya kepura-puraan belaka yang nampak. Bahkan 10 penghargaan yang telah diterimanya hanya ’pepesan kosong’ tidak menunjukkan geliat yang signifikan terhadap mentalitas dan geliat aparat serta masyarakat. Maklumlah penghargaan bukanlah lagi menjadi sesuatu yang murni sebagai prestasi, akan tetapi hanya sebuah prestise semu, yang bisa diperjualbelikan untuk komodite politik yang bersifat permisif, dan bahkan primitif. Semua orang maklum, bahwa negeri ini kini dikuasai oleh tangan-tangan kotor yang notabene para ’politikus’ ; asal kata poli=banyak, dan tikus (rombongan tikus) dan berasal dari ’partai’, asal kata dari ’par dan tai’ (telek). Jadi maklum kalau pola pikir mereka hanyalah berebut kekuasaan untuk menguasai lumbung-lumbung pakan manusia yang lain. Kemudian menginjak-injak dan merebut kembali lumbung-lumbung yang lain, dengan melakukan teror , fitnah, dan intimidasi. Mereka bangga dengan atribut-atribut, mereka bangga dengan kekayaannya, mereka mengagungkan diri, membaik-baikkan diri sendiri, memproklamirkan sebagai pejuang sejati, yang memperjuangkan diri dan keluarganya sendiri, dan entah apalagi.

Sejam kemudian, Prabu Kresna, Werkudara, dan Gathutkaca telah mendekati atmosfir bumi. Dari atas napak banyak kerumunan manusia yang berbondong-bondong menuju sebuah tempat yang nampak penuh lumpur dan bangunan perkampungan yang porak –poranda. ”Waah ini pasti bencana lagi..”, desah mereka bertiga.
Benar !, ternyata bendungan yang dibangun oleh Prabu Ramawijay ketika jaman Ramayana dahulu ambrol. Prabu Kresna sempat merekam awal terjadinya peristiwa itu. Banyak penduduk yang masih terlelap tidur. Sementara hujan dan guntur telah menjadi tanda-tanda ihwal terjadinya musibah itu. Namun penduduk kebanyakan tidak tanggap ing sasmita terhadap himbauan alam itu. Tak pelak ratusan nyawa melayang bersamaan harta benda yang telah melupakan kekuasaan Tuhan.
Kesempatan itu sebenarnya bisa dijadikan sebagai ajang tebar pesona, bagi para caleg pemula dan caleg profesional, tapi sayang, koceknya sudah mulai menipis. Bahkan lumbung-lumbung kekayaannya kini tengah pada ambang krisis, maka maklum Prabu Kresna ndak pernah melihat batang hidung para caleg itu nongol di lokasi bencana. Yang ada tinggal tiang-tiang bendera yang penuh dengan lumpur, dan stiker-stiker caleg yang barsatu dengan lumpur, diinjak-injak para korban yang galau karena keluarganya hilang belum diketemukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar