Senin, 15 Juni 2009

Sang Wiji Sejati

BERITA penganiayaan jabang bocah anak sepasang manusia Raden Janaka dengan Dewi Dersanala terdengar santer hingga se antero jagad Kahyangan. Resi Narada sebagai ketua KOMNAS Hak Perlindungan Anak dibuat gerah, lantaran ada dewa murang tata, menyiksa anak yang tidak berdosa. Tidak kurang dari berbagai kalangan memberikan kecaman keras terhadap ulah Dewa Brama dan Dewa Indra tersebut. Bahkan Dewa Narada sendiri ada rencana untuk membujuk kedua dewa bejat tersebut, agar mengurungkan niatnya memasukkan jabang bayi tersebut ke kawah candradimuka. Dia seharian nampak mondar-mandir di depan televisi hitam putih di rumahnya. Mau ngobrol sama siapa, lha wong Dewa Kamajaya seharian belum pulang ke rumahnya. Dia tadi nelpon kalau nanti ndak bisa pulang, karena hari ini lagi ngurusi TPS PILGUB putaran 2, katanya singkat.
”Alah mbuh !, masalah yang satu belum kelar ini sudah muncul lagi masalah baru” kata Narada sambil mematikan televisi hitam putih 14 inci yang nyaris tidak ada yang punya lagi.
Memang, sang resi akhir-akhir ini banyak PR yang harus diselesaikan, maklumlah sebagai petinggi komnas perlindungan anak, dengan sekuat tenaga dan pikirannya harus benar-benar tercurahkan kepada anak-anak kahyangan yang memerlukan perlindungan optimal. Tak kurang satu hal di akhir bulan ini, dia telah mencairkan masalah pelik pernikahan dini antara Syeh Kalalodra dan Dewi Mentik , seorang siswi kelas satu SMP kahyangan Suralaya. Banyak yang mencibir kelakuan Syeh Kalalodra, diantaranya para kalangan muda yang merasa kalah bersaing, termasuk bujang lapuk yang masih steril dari sentuhan erotisme daun muda.
”Ah, pragenjong-pragenjong pak-pak pong menungsa udele bodong, prawan kencur domblang-domblong , ana emas dibungkus lonthong, klular-klulur kaya keong, bareng dicokot jebul kucing garong, oalah kucing garong, ngeang-ngeong ngalor ngidul umuk emas sak genthong, nadyan ompong nanging prigel ngobahne kanthong, lonthong mblothong ketok mencorong, prawan kencur padha kobong, eh toblas...toblas sak negara padha welas , ana prawan mangan ampas, wong tuwa tahan nafas, wong sinom potong kompas, politikus dapat imbas.....jadi pendekar kipas-kipas”

Sementara itu, di bibir kawah Candradimuka Bathara Indra tidak memberikan kesempatan lagi kepada siapapun untuk meninjau kembali (PK) putusannya . Bayi yang ada di pangkuannya segera ia lemparkan ke dalam kawah yang menggelegap. ”Blung !” seperti suara menda yang dijatuhkan pada air yang dalam. Dewa Indra memastikan kalau bayi tersebut pasti langsung ’dut’ alias modar.
Alangkah kagetnya, ternyata bayi mungil itu tidak klenger ataupun tewas seperti yang dibayangkan.
”Lho !, kakang Brama, lha kok aneh ya ?”
”Aneh bagaimana ta, cucuku sudah mati kan ?”
”Wah gawat kakang, ayo kita lari dari tempat ini saja”

Keduanya terus tergesa-gesa meninggalkan bibir kawah Candradimuka secepat kilat. Sedangkan dari kejauhan nampak bayi yang masih kemerah-merahan itu seakan-akan menari-nari di arum jeram. Sementara di sudut kawah, di balik batu curam, ternyata ada sepasang mata sipit yang mengawasinya. ”Eh !, mbregegeg hugeg-hugeg sak dulita hml...hml, bayi abang campur umbel, ana mertuwa ora duwe udel, pamane uga pikirane mbuthel, jabang bayi tanpa luput dipaeka cunthel, eh Brama !, Indra !, minggata yen pingin gulumu ora tugel, duh Gusti paringana piandel mugi-mugi wayah paduka rahayu, wilujeng , bagus lan kendel ... amin ... amiiin” doa ki Lurah Badranaya lirih.
Langit tiba-tiba menjadi mendung dan gelap gulita, petir berdentum silih berganti, hujanpun tiba-tiba mengguyur kawah Candradimuka sangat derasnya. Kontan api kawah yang menggelegap, menyemburkan api elpigi mati seketika. Aneh bin ajaib ! tiba-tiba dari dalam kawah muncul anak yang imut-imut, putih bersih dan tampan, mirip Raden Janaka
”Aih...aih ... mbregegeg ugeg ... ugeg sak dulita hml ...hml ... ora lidok ujare mbok wedok, akeh lelakon kang wus ketok, para narendra lan kawula rebutan jerohan kathok, iki malah ratuning dewa ora ndlomok, jejodohan tentrem terus dicoplok, katone jagad iki wis bobrok, aih putuku kang wus ketok, hayo ngger kemarilah hayo nyari keng simbok, jangan dengar eyangmu Brama keparat, pamanmu Indra kang murang tata,...” sambut Ki Semar sambil mengangkat tubuh balita yang berusaha keluar dari kolam kawah.
” eh apa ini yang disebut sudah tumurun yang namanya Wiji sejati seperti yang diramalkan oleh Sinuwun Dwarawati beberapa bulan yang lalu, aku yakin barangkali inilah Wiji Sejati itu ....”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar