Senin, 15 Juni 2009

Prodi Reog Jurusan Suminten Edan

Hujan campur badai telah menenggelamkan tongkang yang sarat muatan di perairan Ngawiyat. Badan BMG yang bertugas mengintai cuaca sepertinya kecolongan atas musibah ini. Mereka lupa mengirim pesan dan nasehat kepada Syah Bandar Pelabuhan Ngawiyat. Di radarnya tidak terdeteksi kalau Dewa Baruna dan Dewa Bayu tengah membakar ikan di perairan Ngawiyat. Jadi pas apinya belum menyala kedua dewa yang menguasai angin dan samodra itu tengah mengibas-ngibaskan kipas yang berukuran uamaat buuuesar, hewes...hewes..., tiba-tiba terjadilah angin ribut yang menghempaskan apa saja termasuk ombak dan kapal yang tengah membawa ratusan penumpang gelap yang tengah melintas di perairan itu. Kontan Dewa Baruna amat menyesal melihat korban-korban para manusia yang tidak berdosa itu kian mengenaskan. Demikian juga dengan Dewa Bayu, beliau segera meletakkan kipasnya, kemudian menolong manusia dengan peralatan seadanya.
Kontan gemparlah seluruh penduduk Pertapan Ngawiyat. BMG memberikan sinyal peringatan kepada seluruh pengguna jalur transportasi darat dan udara agar hati-hati dan waspada, sebab angin kipas yang dihembuskan Dewa Bayu volumenya terlalu besar, sehingga sangat membahayakan kedua jalur transportasi tersebut. Sedangkan Dewa Baruna yang menguasai air lautan segera mengambil tindakan cepat untuk meredam laju ombak yang telah menghempaskan kapal-kapal nelayan, dengan cara menghalang-halangi ombak tersebut dengan kedua belah telapak tangannya. Seketika badai dan ombak besar ’sirep’ tinggal silir-silir , dan kricik-kricik , memberikan peluang kepada para nelayan untuk melaut kembali.
Sementara itu tidak jauh dari tempatnya para dewa, para penduduk tengah menggelar ruatan massal atas terjadinya musibah ini. Kali ini sesaji diperuntukkan untuk para dewa yang telah menurunkan bencana kepada mereka. Mereka membujuk kepada para dewa agar bencana itu tidak diturunkan kembali. Mereka telah mengirimkan makanan kesukaan para dewa. Mereka juga rela merogoh koceknya untuk nanggap reog kesukaan para dewa juga. Untuk itu mereka memohon agar Dewa Baruna tidak lagi bermain-main bakar-bakaran ikan lagi, ganti saja dengan ikan presto, hasilnya lebih gurih. Dan tolong sampeyan jangan bikin bencana lagi, pinta salah seorang titah memelas.
”Sudah banyak korban yang berjatuhan pikulun...., mugi paringa kawelasan dumateng kula sedaya, menika kula caos sesaji, caos lelipur arupi Reog Ponorogo, mugi sedaya menika dados lila ing penggalih kersa pikulun nampi sedaya panyuwun kula... amiiin” Kata salah seorang tetua yang bernama Soero Gentho.
”Nuwun sewu lurahe..”
”Ya, ada apa Den Mas Brata?”
”Tumben yang mengikuti upacara ini kok tidak banyak kenapa ya?”
”Mbok menawa wae lagi banyak orang yang sedang ’tandur pari, den mase”
”Waah, biasanya ketika ada acara kayak begini ini umasyarakat pada datang berduyun-duyun, lha kok ini Cuma ada lima rombongan saja. Memprihatinkan banget lurahe...”
”Itulah Denmase, aku kadang-kadang juga jadi pusing sendiri, lha wong Reog itu kesenian yang sudah mendunia lo, lha kok pemerintah itu ndak tanggap, lha ya mestinya kan ya dibuatkan prodi reog ngono ta Raden?”

Raden Mas Brata menjadi semakin tidak nyaut alias ora mudeng dengan ide Ki Demang Soero Gentho, yang uuamat uasing di telinganya. Habis biasanya Ki Gentho itu ujung-ujungnya hanya mbanyol sih, jadi pastilah istilah PRODI hanyalah bahasa prokem, alias bahasa plesetan ”Proyek Memedi, kali”, batin Denmas Broto, menafsirkan sekenanya. Namun setelah Ki Demang mempresentasikan dengan LCD-nya, Denmas Brata baru tanggap.
”Oooo, jadi di padhepokan kita ini perlu membuka program studi Reog ta, Ki?”
”Tepat Raden. Aku kuwatir, jangan-jangan besok, generasi muda kita akan kehilangan budaya adiluhung ini, Raden”
”Betul Ki Demang, aku kemarin juga sudah rasan-rasan sama Suminten, bagaimana nasibnya kesenian ini jika kita sebagai mahasiswa tidak peduli dengan ini semua. Malah Suminten bersedia sebagai dosen seni tarinya. Nanti dia akan melatih para ’penari eblek’ atau jathilnya, Ki”
”Waaah aku bangga, kamu sebagai calon dosen bisa menyumbangkan ide yang bagus untuk kelestarian budaya kita, malah aku ya sudah menyiapkan calon kaprodinya barang, dhekwingi dia sudah aku hubungi via SMS, dia sepertinya sarujuk banget, tapi entah ya, pas aku nilpon, banyak kendaraan peserta kampanye yang meraung-raung sih, jadi ya cuma aku tapsirkan kalau dia itu sangat mendukungnya ...” jelas Soero Gentho sambil membenahi udhengnya.

Tak terasa sore itu pembicaraannya nampak semakin ’ngayawara’ alias ngelantur ke mana-mana. Sepertinya mereka tengah mabuk kepayang dengan hasil riset ’semata wayangnya’.
”Aku membayangkan, kalau prodi ini benar-benar terjadi, pastilah bakat nari Suminten bakal tersalurkan....”
”Dan aku usul Raden, prodi ini biar sensasional dan sensual, beri nama jurusan Suminten Edan, orang luar biar berbondong-bondong kedanan dengan gaya Suminten yang ngebor” pungkas Ki Gentho calon PR 2 sambil menyodorkan rencana pembelian jaket almamter dan kalender untuk calon mahasiswa yang meluber.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar