Senin, 15 Juni 2009

Wahyu Instan Cuwilan Batu

Berita tentang Bocah Sekti kini kian menggemparkan para penghuni Mayapada dan Kahyangan Suralaya. Hampir setiap hari rumah mungil yang ditinggali oleh bocah sekti tersebut didatangi oleh umat manusia yang menyemut. Mereka meyakini kalau Tuhan telah menurunkan ’daya linuwih’ yang mampu mengabulkan semua permintaan lewat batu yang hanya dicelupkan air dalam ember. Bahkan kini seakan fenomena bocah sekti itu, melahirkan ’kreatifitas’ baru yang memunculkan ’kreator mistis instan’ dengan mengaku-aku dapat ’wahyu’ lewat sebuah wisik gaib, dengan pemberian sebuah ’cuwilan’ batu ajaib oleh malaikat berjubah serba putih - mirip kisah para dukun sakti yang sebelumnya telah eksis- menciptakan mesin-mesin uang yang bisa merubah perekonomian dengan sekejap.
Tak pelak para cendekiawan (kaum pinter yang bertubuh pendek : red) segera bereaksi dengan keras, mengeluarkan pernyataan bahwa masyarakat kini tengah sakit. Sakit akidahnya, sakit ekonominya, sakit kantongnya, dan sakit nalarnya. Pemerintah telah gagal menciptakan opini bahwa kesehatan itu murah. Dokter-dokter telah menjadi ’pemalak-pemalak ilegal’ terhadap pasien yang tengah ’kepepet’. Sementara ulama juga telah gagal mengemban tugas sebagai pengawal akidah yang lurus. Mereka mudah luntur dengan godaan dunia yang penuh gemerlap dan menyesatkan, sehingga akidah mudah disamarkan bahkan bisa dibeli dengan sekeping uang perak, kemudian dibiarkan manusia menyembah manusia, bahkan menyembah ’cuwilan batu’ sekalipun. Inilah potret negri kita yang bertabur dengan ’ngelmu klenik’ , sesuatu itu bisa dihubung-hubungkan hanya berdasar ’ngelmu kira-kira, ngelmu mbokmenawa, dan ngelmu jarwa dhosok. Janganlah salahkan mereka, tetapi marilah kita urai kepada peran para cendekiawan dan agamawan kembali , sampai sejauhmana peran mereka mengawal akidah yang sesuai dengan ajaran Nabi?.
Namun demikian apakah yang datang hanya kaum ’sakit’ saja ?.Tidak !!. Tetapi mereka terdiri dari orang-orang miskin, orang-orang yang berpendidikan rendah, ribuan pejabat, caleg, pedagang, mahasiswa,dosen, rektor, guru, camat, lurah, Hansip, Satpam, Polisi, Tentara, dan para petinggi berbagai instansi, tumplek bleg ngantri berhari-hari agar bisa mendapatkan ’cem-ceman batu sakti’ yang konon mampu menghentikan lumpur ’muncrat’ milik Lapindo sekalipun.Bahkan kalau ndak dapat airnya, paling tidak bisa mendapatkan air sisa mandi, atau apa saja yang berada di sekitar bocah sekti tersebut, seperti sisa makanannya, sisa minumnya, bekas piring dan gelasnya, air talang, lambaian tangannya dan sebagainya, yang diyakini segala sesuatu yang berada di sekitarnya, diyakini akan mendapat karomahnya.
Masing-masing yang datang berbeda-beda niatnya. Yang guru meminta agar portofolio sertifikasinya lolos sensor, yang pedagang meminta agar laris dagangannya, yang camat meminta agar para lurah tidak mendemo kebijakannya, yang bupati,dan caleg meminta agar pemilu mendatang bisa terpilih kembali, yang satpam, meminta agar tugas malamnya tidak diganggu oleh garong, sementara ada salah seorang rektor baru-jilmaan Dewa Srani, dengan wajah tampan, lemah lembut, pintar menjebak, penuh muslihat ; merupakan satriyanya makhluk halus-dari Universitas Dandang Mangore yang datang meminta, agar semua kelicikan, akal bulusnya, semua rencana busuknya, dan masa lalunya yang pernah memalsu data, mengkorup uang masyarakat miskin, mengkorup uang recovery SMK pemerintah Dandang Mangore, memakan uang teman sejawatnya, dan terakhir berbuat culas kepada kandidat rektor yang lain, agar diberi slamet wilujeng, orang lain tidak ngonangi,dan kalau bisa karirnya bisa melejit menjadi pangeran yang bisa berkuasa di kabupaten Dandang Mangore. Sedangkan para pramuwisma permintaannya hanya sederhana, yaitu hidupnya agar lebih tenang lagi, tidak digusur oleh satpol PP dan pemerintah yang tidak punya hati nurani.
Baiklah, kita tinggalkan kisahnya bocah sekti dengan ajian wahyu ’cem-ceman batu’, yang kini menjadi sorotan dari berbagai pihak yang merasa dirugikan. Kini kita sekarang kembali kepada rombongan punggawa Ngamarta yang tengah menjalankan tugasnya.
”Kresna Kakangku, aku kok ndak habis mikir, lha wong ing atasnya mbahnya, atau penguasanya dewa, lha kok kalah sama anak kecil, ini apa tidak mewirangkan?”
”Weeladalah, si adi kudu sadar, Bathara Guru itu juga bersifat titah. Dia juga punya kelemahan dan kekurangan, maka ya mokal kalau dia itu tidak punya kelemahan”
”Malah sekarang para penduduk di sana sudah minger keblate, syirik !, watu, sak banyune kaya-kaya sing bisa marekne penyakite. Bocah cilik kuwi mau kudu ndang di amanke, mesakne, para kawula mung dadi korban, rusak akidahe, salah-salah dewekne dianggep sing nggawe urip, kuwi luput sing tikel matekuk !, padahal menawa berobat kepada dokter , itu lebih baik dan masuk akal, ya slamet akidahe, masyarakat kini jadi sakit”
”Werkudara, aku arep takon coba wangsulana, sing teka berobat menyang kono kae kira-kira masyarakat mampu apa ora?”
”Yen nurut pamawasku, rata-rata wong sing ora mampu”
”Kowe ngerti, menawa deweke berobat nyang dokter sing nganggo biyaya mahal apa kira-kira ya mampu ?. Padahal kowe dewe rak ya ngerti ta, dokter ning Ngercapada dewe sing nggawe opini menawa berobat iku mesti larang, lan pemerintah babar pisan ndak pernah membuat kebijakan yang berpihak kepada rakyat miskin. Buktine, ASKIN sing mestine gampang kanggo berobat, nanging masyarakat trima nggo pingpong, ditelantarkan kemudian diputar-putar agar pelayanan menjadi semakin melelahkan, terus ujung-ujunge masyarakat memilih dokter dengan terpaksa. Mbok ya sekali-kali ada dokter yang iklas tumusing batin melayani masyarakat dengan jujur, ramah, dan murah, hayo jajal goleka sing kaya mangkono kuwi sekarang, langka, Werkudara !!., terus orang-orang yang memilih jalur alternatif itu adalah orang-orang yang terpaksa, mereka sudah tiddak punya pilihan lain yang berpihak kepadanya. Jangan memvonis masyarakat yang sakit, tetapi ulama, dokter, pemerintah, guru, dosen, rektor, anggota dewan serta para pejabat-pejabatlah yang sakit. Mereka perlu segera disehatkan terlebih dahulu, masyarakat miskin adalah efek samping dari keculasan mereka”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar