Senin, 15 Juni 2009

Cafe Remang Tumpang Sari

Hari telah menggapai remang. Pemandangan berubah menjadi bayang-bayang. Buruh tani, pedagang dan para makelar nampak pulang. Diusapnya peluh yang keluar di sepanjang siang. Jalan protokol sedikit lengang. Nampak di sebuah sudut jalan -di ujung timur pusat kota-, para ’mucikari’ cafe remang bersiaga menyiapkan bilik-bilik mesumnya. Mereka sengaja menjajakan tirai bambu lesehan sekaligus untuk memberikan kesempatan pada para burung dara dan generasi gaul untuk bergaul dan menggauli sepuas hati para kekasihnya di balik tirai bambu tersebut.
Memang, para mucikari cafe tersebut sadar terhadap usaha dan efek samping yang ditimbulkan, tetapi itulah sebuah umpan jitu untuk melariskan usahanya. Hanya dengan bekal umpan secangkir kopi maka kepuasan kenikmatan akan didapat dengan menggeliat bak ulat yang terkena pukat. Pemuda pemudi terpikat mengumbar syahwat, di bilik sekat yang aman dari aparat.
Sementara malam semakin pekat. Lalat-lalat mendendangkan lagu campursari semakin lekat. Lewat dinding bersekat, empat mata saling memadu. Nasi Pecel tumpang sari hanya hiasan. Jim setan brakasaan, ilu-ilu banaspati membakar birahi. Aroma sambal di meja, telah mengucurkan air liur yang mengucur di tubuh sekujur. Empat hasta menjulur, menjalar, merayap menyusuri gudang-gudang amunisi. Tertangkap satu persatu agen rahasia. Terlihat ada beberapa tempat terkena metraliur, dan babak belur. Lunturlah bedak dan lulur. Yang terdengar hanya rintihan sambal pecel. Mereka memohon jangan diabaikan, karena sebentar lagi basi. Apa kata sambal ”Lebih cepat lebih baik !!” , ”Ah Lanjutkan !!!, kalau perlu kalian berdua sering-seringlah ke sini, sampaikan pula pada teman-teman, kalau di sini aman dan nyaman lho, sudahlah lanjutkan, ... lanjutkan !!” kata mucikari cafe lantang, dan setengah berpromosi.
Begitulah genderang perang urap sarap tengah terjadi. Cafe remang telah menyimpang menjadi bilik mesum yang berkedok angkring yang menjajakan aneka makanan dan aneka hiburan tembang-tembang. Tak kurang tembang campursari selalu menandai percampuran darah-darah birahi, antara dua kader belia , tak peduli apakah mereka masih mengenakan simbol-simbol agamis atau tidak, kini yang ada hanyalah atas kerudung bawah warung, sehingga syahdunya tembang campur sari berubah menjadi dendang tumpangsari.
Sedangkan keberadaan bilik-bilik bambu yang sengaja disulap menutupi setengah badan orang berdiri itu berubah menjadi bilik nafsu, yang memanjakan kebebasan antara dua insan berlainan busana dan kepala. Dan itu sudah menjadi pemandangan lumrah bila kita singgah di cafe remang. Di sana akan ada sepasang burung kepodang yang tengah masuk gudang, sayapnya grayang-grayang meraih pisang, paruhnya muncu-muncu beradu.
”Ngger wadukku sudah terasa laper?” kata Semar mengajak Wisanggeni nyari warung terdekat
”Mbah ndik sini itu nggak ada warung, yang ada cuman cafe”

Semar nampak mengernyitkan dahi tanda ndak terlalu paham dengan istilah asing yang baru saja disampaiken Wisanggeni.

”Mbah kalau sampeyan mau makan jangan di Cafe, di sana lampunya nggak terang, aku kuwatir nanti Simbah salah makan. Salah-salah yang diduduki bukannya kursi, tapi tamu yang tengah tiduran, atau anak-anak muda yang tengah memadu asmara. Habis gelap sih di sana”
”Eh ngono ngger, ya ta , yen ngono hayo nggolek warung liyane wae”
”Hiya Mbah, daripada mata simbah jelalatan memang lebih baik begitu”

Keduanya segera meninggalkan Cafe Tumpangsari yang berada di perempatan kota sebelah timur ,negeri Ngamarta. Keduanya naik becak ke arah barat. Tidak lama keduanya sudah tiba di jalan baru. Wisanggeni menunjukkan deretan warung lesehan dengan pramusaji perawan-perawan belia lajang, yang sengaja dipajang untuk umpan para pemuda belang. Mereka nampak akrab dan lengket kepada siapa saja yang menggodanya. Mereka tidak risih ’ngamplok’ di atas sepeda motor, bersama pemuda kenalannya. Seakan seluruh anggota badannya bisa menempel di mana saja. Hal itu tentu saja membuat air liur Ki Lurah Semar mengalir deras. Ia melihat sambil membayangkan ketika pertama kali bertemu dengan Dewi Kanestren, di kahyangan sana.
”Ayo Mbah pecele disikat !!” ujar Wisanggeni membuyarkan lamunan
”Eh hiya thole !, aku kok malah nglamun” sergah Semar tersipu malu.
”Yah, begitulah Mbah, pemuda sekarang, kata mereka perempuan itu ibarat busana. Jadi kalau dia mau tahu perempuan dia mencobanya dulu..”
”Eh iblis laknat !!, muga-muga aja nganti tumurun marang kowe lan anak putuku. Wis ngger hayo enggal nyingkir ka kene, hayo sowan ning Praja Ngamarta wae, selak wengi..”
”Oh hiya mbah, hayo ”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar