Senin, 15 Juni 2009

Potongan Tunjangan Fungsional

Nuju hari Respati Jenar, hujan pertama pada pranata mangsa kalima, atau candra pancuran emas sumawur ing jagad, telah mbuka musim penghujan di jagad raya kahyangan Suralaya dan tataran planit bumi tlatah Jawadwipa. Para petani nampak tersenyum sumringah, diesel-diesel penyedot air mulai banyak yang dirumahkan kembali. Para penduduk yang selama ini kekuarangan air dan cairan nampak sumringah menyam-but kucuran hujan yang langsung lebat. Lumayan, badan bisa sedikit harum lantaran terkena aroma sabun yang digosokkan bersamaan lunturnya daki yang menempel berhari-hari. Memang yang namanya hujan itu juga termasuk rejeki, dan rejeki sendiri itu tidak bisa diminta secara paksa, pasti pas mangsanya tiba, maka dia akan datang sendiri. Tak terkecuali para punggawa Kahyangan Suralaya, mereka juga merasakan euforia ketiban rejeki bersamaan dengan datangnya hujan yang pertama kalinya, mereka dikabarkan menerima tunjangan funsional yang konon kabarnya sudah duapuluh satu bulan ngadat jadi lirikan para anggota dewan (baca: Pakdenya Kewan). Tepat di malam Lebaran tunjangan itu mencair kemudian langsung meleleh dan menguap terbawa sifat aluwamah, bin rakus, alias konsumtif, gatal bila ada uang di tangan kalau tidak segera pergi ke toko-toko mengobral ’dugem’ (duit genah mendemi), berpesta pora dan tidak terfikirkan dana itu sebagian untuk fakir miskin yang ada di sekitarnya. Mereka terbiasa ’wah’ riak di bawah pesta Lebaran.
Berbeda dengan Pukulun Narada. Bulan Lebaran ini dia memilih ’uzlah’ menyendiri di padhepokan Usada Pangudal-udal. Dia tidak mendapatkan parcel dari pemerintah daerah Suralaya. Beliau dianggap sudah tidak loyal lagi kepada pukulun Manikmaya alias Bathara Guru penguasa tunggal Kahyangan Suralaya. Ndak apa-apa, ATM-nya masih cukup untuk biaya hidup delapan semester, lumayan, karena selama puasa ’job’ pengajiannya ada di mana-mana. Sehingga dia nampak santai menikmati hari-hari minggatnya di rumah. Hanya saja pukulun kelihatan raut mukanya ada sebercak ke-sedihan ketika membaca koran lokal yang memuat tentang potongan tunjangan fungsional rekan-rekan seprofesinya di kahyangan, dia sebagai ketua forum persatuan guru-guru se kahyangan Suralaya (FPGKS) amat tersungging eh tersinggung, atas ulah para oknum-oknum bendahara yang telah tega merampas hak guru yang lain. Tak tanggung-tanggung potongan itu hingga 15% ’dugem, duit genah mendemi lha kok mentala di untal ”Oh pragenjong-pragenjong pak-pak pong kali porong ngalor iline, kanthong bolong entek duwite, oh ndonya apa wis arep kiamat, para manungsa kelangan keblat, pejabat mung ngobral syahwat, ninggalake syareat, bisane mung sambat, duwite kanca padha diembat, rawat-rawat kandhane kanggo zakat, ra perduli persatuan guru padha mulat, ing kene margane tukon obat, ingsun kuwasa dadi tukang sunat, aja padha sambat mengko ndak sikat, iki lho pejabat penguasa tukang ngangkat lan tukang mecat, jangan coba-coba kalau pingin selamat.... bangsaaaaaaaat !!!!” teriak pukulun Narada seperti orang gila yang tengah jengkel dengan penyakitnya.
Sementara itu di rumah Pukulun Bathara Brama, Bethari Dersanala nampak murung di dalam kamarnya. Dia terisak menangis tersedu-sedu sambil berbicara ’sesenggukan’ dengan sumi tercinta lewat HP. Punakawan nampak terharu melihat Dyah Ayu sendirian di dalam kamar. Hari-hari mesranya terlewatkan begitu saja. Padahal sebelumnya Raden Janaka pernah berjanji bahwa setelah pesta pernikahan nanti, dia akan diajak bulan madu di Pulau Dewata. Kini janji itu gagal total. Malam pertamanya dia habiskan di kamar sempit penuh dengan cucian baju dan busana pengantin yang belum sempat dilipat dalam lemari. Tapi lumayanlah dari ’pergumulannya’ itu kini perutnya dinyatakan positif ’bunting’ alias hamil satu bulan, oleh dokter kandungan Swargadahana. Harapannya sih maunya ditunggui oleh suaminya terus dan anaknya kelak laki-laki tampan seperti abahnya. Tapi apa dikata, Bathara Brama ayahnya menghendaki agar perkawinannya dibatalkan, dengan alasan pukulun Manikmaya tidak merestui seorang dewi kawin dengan satria bangsa manusia. Dewi harus dapat dewa-kecuali dewa sembilan belas- dan manusia harus dapat manusia. Untuk itu Bahara Brama diutus Pukulun Bethara Guru supaya membujuk Janaka dan Dersanala agar membatalkan perkawinannya.
Dengan muka yang sembab Dewi Dersanala diajak paksa ramandanya terbang menuju kahyangan Suralaya.

Leng-lenging driya mangu-mangunkung kandhuhan rimang lir lena tanpa kanin ooong...

”Rama pukulun, menika pun cucu paduka Dersanala sampun ngabyantara di depan paduka ”
”Iya...ya ngger Brama terima kasih tiada terhingga, atas jerih payahmu berhasil membujuk Dersanala kemari, mangko ta ngger putu ulun Dersanala, apa awakmu sudah paham dengan kersaku ?”
”Nun inggih eyang, sebelumnya wayah paduka menghaturkan sembah bakti ,sungkem dhumateng eyang ”
”Banget ing panarima ulun ngger, hanya pangestunya eyang terimalah ngger”
”Dahat katedha kalingga murda semoga menambah kebahagiaan, dan keluhuran eyang, dan selanjutnya ada apa eyang, kok eyang pukulun menyuruhku datang menghadap ?”
”Begini Dersanala, berdasarkan PP 10 tahun 2008, tentang undang-undang perkawinan Kadewatan, seorang dewi tidak boleh menikah dengan manusia, oleh karena itu ngger, berhubung suamimu itu seorang manusia, maka perkawinanmu berarti sudah melanggar undang-undang. Aku kuwatir, mumpung anggota dewan belum mengetahui perkawinan ini, tolong ngger batalkan perkawinanmu, sebab eyang mesti bakal kena impeachment dari dewan, ujung-ujungnya jabatan eyang bakal lengser, sebagai gantinya eyang sudah menyiapkan gantinya sesama dewa, yaitu Dewa Srani, ya putra ulun sendiri, piye ngger mau ya ....”

Oooong surem-surem diwangkara kinkin, lir manguswa kang layon, denya ilang kang memanise, wadananira layung kumel kucem rahnya maratani, oooong......

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar