Senin, 15 Juni 2009

Wisanggeni vs Quick Count

Jumangkah hanggra sesumbar lindhu bumi gonjing, gumaludhug guntur ketug, umob kang jaladri oooong ...
”Ora ngono ngger , sak jannya kamu itu namamu siapa, asalmu dari mana, lha kok ujug-ujug muncul dari air mendidih kawah Candradimuka ?”
”Oh sorry kek, aku sendiri juga ndak mudeng ..., kalau kamu menanyaken namaku aku belum nama kek” jawab anak kecil yang baru muncul dari kawah tersebut.

Kiai Badranaya hanya manggut-manggut, dipegangnya pundak anak kecil itu sambil membungkukkan badanya.
”Wah kebeneran ngger, kalau lu belon punya tenger atau nama, kakek akan memberimu nama sesuai dengan asal-usulmu, dan kalau kamu mau, besuk pagi kakek antar ke kantor catatan sipil, mendaftarkan nama resmimu”
”Memangnya kakek mau memberi nama apa ?”
”Ngger ..., berhubung kamu itu berasal dari kawah yang penuh dengan kobaran api, maka kakek berketetapan hati untuk memberiken nama untukmu Raden Wisanggeni besuk kalau nulis di ijazah cukup R. Wisanggeni ngono wae ngger ... ben ringkes”
”Aku sampeyan tegeri Raden Wisanggeni, kek ?”
”Eh iya thole, sebab kamu itu lahir dari jilatan api”
”Lha terus siapa sih orang tuaku itu ?”
”Aih... aih ... mbregegeg ugeg sakdulita hml..hml, eh ngene ngger Wisasnggeni, menawa kowe nekokne wong tuwamu, iki pas kebeneran, kowe mengko tak antar ke kahyangan Suralaya, sebab menawa kasep, ibumu bakal dinikahkan paksa dengan Dewa Srani, ngger Wisanggeni kamu jangan wedi kangelan, di sana nanti kamu akan menghadapi tiga teroris, sing siji gembonge jenenge Bathara Guru, mbah buyutmu, sing loro jenenge Bathara Brama ya mbahmu dewe, lan Bthara Indra, si tukang provokator”
”Lho !??, apa ya bisa menang kek aku ?”
”Aih , you jangan kuwatir ngger, semuanya sudah kakek quick count , wis tak itung dengan cermat, cepat dan akurat, dewa telu tadi ndak ada apa-apanya. Nanti kalau ketemu dewa sing tangane papat, langsung wae ngger kamu taboki, kamu hajar, tapi jangan dieksekusi lho ngger, buat jera saja, jangan sampai pingsan, mengko malah panjang urusannya”
”Lha terus kakek ?”
”Kakek bakal ngawat-awati lakumu, nanti kalau ada apa-apa kakek yang bakal ngatasi, wis ngger , hayo kamu naiklah di pantat kakek, nanti kamu bakal aku terbangkan dengan biogasku”
” Duuuuuuuuuuuuuut !!!!!!!” Kiai Badranaya alias Semar tiba-tiba mengeluarkan biogas sakti alias kentut yang maha dahsyat. Seketika tubuh Wisanggeni terbang melayang menuju kahyangan Suralaya.
Wisanggeni amat takjub dengan pemandangan yang terlihat di bawahnya. Daratan yang menghijau, samudra lautan yang terhampar bulat berkilau, menambah daya tarik yang amat mempesona. Dalam hati Wisanggeni juga berkesimpulan, bahwa kakek yang ternyata bernama Semar itu, adalah bukan orang sembarangan. Dari energi kentutnya saja orang bisa terbang melayang. Coba kalau energi kentutnya itu dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik, kemungkinan listrik di kahyangan itu tidak akan sering nagadat. Tak terasa kini tubuhnya sudah melayang di atas bangunan yang menampung banyak kendaraan, baunya dari kejauhan ’pesing’ banyak sampah teronggok tercecer di mana-mana, ketahuan kalau tempat yang ternyata bernama terminal itu kumuh dan jorok. Wisanggeni memilih memacu terbangnya ke arah selatan, kurang lebih dua kilometer dia melihat pemandangan di jalan raya tepat di depan pasar, terlihat tukang parkir yang serampangan mengatur parkir hingga mengganggu arus lalu lintas, Wisanggeni tak tertarik, dia memacu terbangnya kembali ke arah selatan. Kira kira satu kilimeter berikutnya dia memilih belok ke arah barat, dia melihat arus lalu lintas di jalur satu arah, masih kelihatan para pengendara tidak disiplin mematuhi aturan berlalu lintas. Mereka malas memutar jalur. Wisanggeni hanya geleng-geleng kepala, dia memilih melanjutkan lagi ke arah alun-alun pendapa pemerintah daerah Suralaya. Di bawah sana terlihat kondisi alun-alun yang selalu kumuh oleh keberadaan para pedagang yang tidak peduli lagi dengan keindahan taman kota. Wisanggeni sengaja turun di dekat sederetan patung harimau. Dia terkaget-kaget, baru saja kaki tubuhnya mau menginjakkan kaki, tiba-tiba ada sepasang manusia masih pakai seragam sekolah menjerit, rupanya kaki Wisanggeni nyerempet punggung pasangan muda-mudi yang tengah berbuat mesum di bawah rerimbunan tanaman dekat kantor lantai delapan. Rasain lu !, untung aku tadi ndak kencing ! , batin Wisanggeni jengkel.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar