Senin, 15 Juni 2009

Mimpi Ki Lurah Petruk

Untuk sementara kita tinggalkan dulu prosesi pasamuan agung di negeri Ngamarta. Kita sekarang kembali ke pertapan Ngawiyat , sebuah Lab School, sekolah laboratorium para brahmana yang tengah ngangsu kaweruh kepada Dewa Bagus dan Dewa Resi- walau nuwun sewu, bangunannya kini mangkrak lantaran pimpronya kurang cermat dalam menghitung uang jajan dan menu makanan yang digunakan- sekarang nampak seperti benteng Portugis yang ditinggalkan oleh para serdadunya. Dewa Resi memilih menamakan lembaga itu dengan universitas terbuka (UT) Universitas Ngawiyat yang atapnya dari langit lantainya dari bumi, kalau hujan ketrocohan, panas ya jelas kepanasan.
Sementara itu di dalam Padhepokan Ngawiyat, Ki Lurah Petruk nampak tidur kelelahan di samping Raden Janaka yang sakit. Dalam tidurnya dia bermimpi kalau Sang Panembahan Dewa Resi masa jabatannya sebagai rektor UT Ngawiyat habis. Oleh karenannya atas dukungan, Gareng, Bagong, Togog dan Bilung, Petruk dijagokan menjadi rektor menggantikan Dewa Resi yang masa jabatannya habis.
Dalam mimpinya Petruk harus bersaing dengan dua kandidat rektor, Raden Janaka, dan Dewa Bagus. Tentu saja kesempatan itu digunakan oleh team sukses untuk menggalang dukungan dengan program-program mercusuar, sebuah program muluk-muluk yang belum tentu bisa mewujudkannya. Dan Petruk sendiri sebenarnya ndak mudeng blas dengan program buatan team suksesnya. Maklumlah kesehariannya Ki Lurah Petruk terkenal tidak tertib administrasi ” lha wong sekolah saya dulu aja pintar karena hasil kerpekan, lha kok ini disuruh jadi rektor apa ya bisa?”, batin ki Lurah Petruk dalam mimpinya. ”Ah sampeyan ndak usah kecil hati, semua biar diatur oleh team sukses” desak Gareng korlap team suksesnya.
Pada hari yang telah ditentukan, dalam mimpinya Ki Lurah Petruk harus bertarung dengan Raden Janaka, dan Dewa Bagus. Alhasil dalam pemilihan rektor Ngawiyat itu berakhir dengan perolehan suara 212. Dua suara untuk Petruk, satu suara untuk Dewa Bagus, dan dua suara lagi untuk Raden Janaka. Petruk dan BPH tercengang melihat hasil yang sangat mengejutkan itu. Mereka tak menyangka kalau Raden Harjuna yang masih degleng, stres karena perempuan itu masih mendapat dukungan. ”Padahal dia kini kan lagi stres, bahkan sembahyang saja ndak pernah, kenapa masih saja ada yang memilih”, batin Togog nggak habis mikir. Sedangkan Petruk hanya cengar-cengir, dia heran dengan angka 212 angka kegemarannya kok bisa muncul dalam kejadian yang penting di luar dugaannya. Memang, angka itu adalah angka idola yang selalu digunakan oleh pendekar pujaannya ’ Wiro Sableng’, pendekar nglejing dengan segudang kepura-purannya, tapi pintar bergaul karena ketampanan dan kesaktiannya.
Pada hari berikutnya, dalam mimpinya, para hulubalang mengadakan rapat tertutup untuk membicarakan hasil pemilihan rektor Universitas Ngawiyat tersebut. Keputusannya adalah, rektor difinitif harus ditetapkan oleh pimpinan pusat padhepokan. BPH harus membuatkan deskripsi objektif dari dua kandidat kepada pimpinan pusat padhepokan. Hal itu tentu saja membuat peluang Petruk lebih besar daripada Raden Janaka yang kini dalam kondisi stres berat, karena Petruk memang lebih kelihatan ’alim’ dibanding Raden Janaka yang doyan dengan para perempuan cantik.
”Yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini adalah kondisi jiwa dan raga kandidat. Kita jangan memilih orang yang sakit-sakitan, dengan kondisi kejiwaan yang labil” ujar Togog sambil mengusap air liurnya yang terus mengucur lewat bibir mulutnya yang dower.
” Betul kak Togog, di samping itu kita juga harus mempertimbangkan ketebalan iman seseorang...”
”Maksudnya apa Lung?”
”Kalau kita memilih Raden Janaka itu sama dengan memilih orang yang ndak tahu agama. Dia itu akhir-akhir ini sering melupakan kewajiban sembahyang berjamaah di sanggar pamujan, berbeda dengan Kang Petruk kak, ia akhir-akhir ini rajin sembahyang di sanggar pamujan, sekarang pilih mana? Pilih orang yang tebal iman apa yang tipis iman?, kalau pilih tebal iman ya pilih saja si Petruk, kalau pilih orang yang malas beribadah ya pilih saja si Janaka. Tapi aku yakin kok Kak Togog, sampeyan adalah orang yang tanggap dengan keyakinan seseorang, sampeyan ya bisa menilai kesehariannya,kang Petruk lebih pas dibanding dengan Janaka...” jelas Mbilung berandai-andai.
” Semua keteranganmu benar Lung , aku ya cenderung kepada si Petruk saja, untuk itu usulkan kepada Kang Semar agar masalah ini diteruskan kepada pimpinan pusat padhepokan”
”Yen nurut sampeyan gimana Kang Semar?” tanya Mbilung tiba-tiba
”Aih.. mbregegeg ugeg-ugeg sak ndulita hml...hml, aih, aku itu wis tuwa, jangan kamu katut-katutkan dengan masalah ini. Semar hanya mengingatkan, kalau masalah ini adalah masalah yang besar. Kalian jangan hanya melihatnya dari kacamata senang dan tidak senang, akan tetapi telitilah secara cermat kemampuan menejemennya. Banyak orang yang rajin beribadah, akan tetapi banyak dari mereka yang tidak menguasai administrasi. Padahal di dalam universitas ini segalanya harus berjalan sesuai dengan mekanisme administrasi, lha kalau rektornya saja tidak menguasai menejemen terus apa ya bisa administrasi berjalan, oleh karenanya Semar arep niteni menawa universitas yang sudah merangkak besar ini bakal ambruk kalau ini terus dilanjutken, luwih-luwih aku dewe wis ngerti keseharianne si Petruk, oleh karenanya aku ora sarujuk menawa Petruk dadi rektor, serahkan semua pada ahlinya, sebab sok sopoa sing dudu ahline samubarang bakal hancur ” jawab Semar sambil meninggalkan sidang.
”He Truk...Truk....Truk !!!, tangi !!!, kowe mau ngimpi apa?, kok ah...uh, ah
Uh...” teriak Bagong sambil memencet hidungnya Petruk
Petruk seketika terbangun dan duduk termangu. Ia bersyukur ternyata jabatan rektor, yang disandangnya hanya mimpi belaka. Seumpama dia betul yang menjabatnya, maka ini namanya wahyu kesasar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar