Senin, 15 Juni 2009

Grebeg Sura Grebeg Sora dan Grebeg Ura

Panembahan Dewa Resi dan Dewa Bagus nampak segera menghampiri Raden Janaka yang tengah duduk terkulai. Kedua panembahan nampak iba. Dia tidak menyangka kalau Raden Janaka kini seperti itu. Wajahnya kusut, pakaiannya kumal, rambutnya nampak gimbal, seperti tidak pernah mandi keramas. Padahal biasanya sang panembahan ’niteni’ kalau Raden Janaka itu rambutnya selalu harum. Maklumlah istrinya kan banyak, jadi setiap hari harus melayani istri-istrinya, sehingga tiap hari harus mandi keramas selalu.
Siang itu kedua panembahan dan punakawan nampak berpenampilan berbeda daripada hari-hari biasanya. Mereka berbusana warok serba hitam. Sehingga ciri khas mereka kini nyaris tidak kelihatan. Dewa Resi dan Dewa Bagus kehilangan sifat kedewaannya, sedangkan Petruk, Gareng, dan Bagong, kehilangan sifat kepunakawanannya. Semua menjelma menjadi warok-warok wayang yang memasang kolor kepanjangan. Wagu, kaku, lucu, mecucu, berbau, maklum bajunya cuma satu, seminggu sudah berlalu, nyaris ndak pernah ’mambu banyu’, kecuali basahnya keringat yang berbau menyengat.
”Petruk, coba mendekatlah kemari”
”Ah, mboten usah panembahan”
”Lho, kenapa Petruk, nggak usah sungkan, hayo mendekat saja” ujar Dewa Bagus sambil memegang pundak Petruk.
”Nyadong deduka panembahan, badan saya berbau... sudah seminggu niki sragam warok kula belum ganti panembahan”
”Lha apa ndak pernah kamu cuci Petruk”
”Mboten sempat panembahan, lha wong jawah kemawon”
”ya... paling tidak disemprot parfum saja kan sudah berkurang baunya”
”Berkurang pripun, malah niki baunya sudah uleng-ulengan, nggak karu-karuan”
”Saya usul mbah panembahan !”
”Ya, usul apa , Bagong?”
”Saya usul, tahun depan pemerintah panembahan harus mulai mengalokasikan dana untuk pengadaan baju seragam warok, jangan setiap tahun hanya sragam keki melulu, sampai-sampai kain kula sragam niku numpuk dereng sempat kula jahit panembahan”
”Wah usulmu apik Bagong, ya dongakna wae tahun ngarep aku bisa kepilih maneh dadi panembahan”
”Lho !, panjenengan mau mencalonkan lagi ta ?”
”Iya Petruk, sebab dadi panembahan iku menak, mirasa, apa-apa sing dikarepne cumepak ana, pingin klasa amba, kursi dawa, panganan sak meja, kabeh kari ngedika, mesti bakal teka”

Petruk hanya manthuk-manthuk mendengarkan wejangan panembahan Dewa Resi. Sementara hari semakin larut. Matahari di atas bumi sudah mulai nampak condong ke arah barat. Sedangkan di jalan raya di sekitar alun-alun Ngamarta terdengar mulai bising. Para pengendara nampak memadati jalan raya, untuk masuk menuju aloon-aloon yang kini mulai nampak semakin semrawut dan kumuh. Mereka telah melupakan tujuan semula peringatan tahun baru Hijriah. Grebeg Sura mesthinya dimaknai sebagai gerakan berani, sikap berani, sikap tegas untuk meninggalkan perbuatan tercela menjadi perbuatan yang terpuji, interospeksi diri, rendah hati, tawakal, dan melakukan amalan suci. Tapi kini Sura, berubah makna menjadi sora, yang artinya kuat. Di sana kini sedang terjadi adu kekuatan, ngumbar hawa srakah, njarah –rayah, rebutan sega sak tampah, banter-banteran suara, banter-banteran gerok, gedhe-gedhenan sogok, sapa sing akeh tombok ing kono bakale ketok. Sura juga bergeser menjadi ura, yang artinya tetembangan atau nyanyian , bisa juga dikonotasikan sebagai bersenang-senang. Sura jaman dulu, digunakan oleh pendahulu kita sebagai bulan sakral, untuk membersihkan pusaka, lelaku tirakat, menyingkirkan balak, gangguan ruh-ruh jahat, ngruwat, membuang sengkala, tapi kini masyarakat sepertinya sudah terkondisi dalam budaya boros, dirangsang dengan ritual untuk menghambur-hamburkan uang, senang-senang, malas-malas, dan melupakan kepada kekuatan sejati, Tuhan Yang Maha Suci.
”Punakawan ?”
”Nggih panembahan” jawab Gareng, Petruk, Bagong, kompak.
”Kanjeng Nabi pernah bersabda’ al mu’minul qawiyyu khairun wa ‘ahabbu ’ilallahi minal mu’minidh dhaifi, wa fi kulli khairin!’ mukmin yang tangguh lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah SWT daripada mukmin yang lemah, walaupun kedua-duanya dalam keadaan yang baik. Nyemak Hadits itu secara gamblang bahwa Nabi menginginkan umatnya menjadi orang yang tangguh dan mumpuni, daripada umat yang lemah. Oleh karena itu ngger Punakawan, kamu jangan tergiur dengan kesenangan dunia kemudian melupakanmu untuk mengingat kuwajibanmu menunaikan ngibadah wajib, aja ya ngger. Karnapal, ya karnapal, grebeg sura, ya grebega sura, nanging parentah laku takwa itu sifatnya mutlak, nggak bisa diganti dengan perbuatan apapun. Sebab Allah itu bersama dengan manusia di mana saja berada, kapan saja, dan dalam keadaan apapun juga, oleh karena itu Punakawan, hayo laku urip iki mutlak kanggo kabecikan, oleh karenanya , berhubung Raden Janaka butuh pertolongan, hayo sekarang dia kita boyong ke pertapaanku sana, mudah-mudahan Gusti Ingkang Akarya Jagad menyembuhkan segala penyakitnya”
”Nggih panembahan, mari saya derekkan”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar