Senin, 15 Juni 2009

Kurban dan Karbon

Ndak bisa diceritakan dengan lesan maupun tulisan. Raden Janaka yang lagi emosi ’tumpuk undhung’ ngamuk bagaikan banjir bandang plus air bah yang disentorkan oleh tsunami. Raksasa-raksasa alias buta yang mengeroyok dirinya dibuat kalang kabut, lari kocar-kacir. Bahkan ada sebagian buta yang tewas mengenaskan, dan ada pula yang harus dilarikan ke UGD lantaran terluka cukup serius. Itulah barangkali yang disebut dengan kurban karbon, alias kurban yang terbakar sia-sia. Mereka ndak memperhitungkan kekuatannya, tetapi hanya emosi yang mengandalkan kekuatan tubuhnya semata. Ngelmu kurbannya tidak sampai ke alam ning, akan tetapi hanya ke alam’nang’ . Nang paran-paran kepingin mendapatkan wahyu ’wah’agar disanjung-sanjung, dielu-elukan, bak brahmana yang menitis, menyamar sebagai wali suci, yang punya daya linuwih yang bisa menyelamatkan bangsa dan negara. Mereka bernyali sempit, hanya memburu kenikmatan dunia. Mereka hanya berharap kelak dapat meraup suara dukungan sebagai pemimpin ’wong cilik’ , pahlawan dan negarawan yang bisa mengayomi seluruh kawula menuju ’mukti wibawa’ bukan ’wibawa mukti’ yang mempunyai konotasi berkuasa kemudian ongkang-ongkang ’ sok kuasa’ ’ngereh’ wong cilik, bermental adigang-adigung, adiguna, bukan Adi bing Slamet, bersifat angkuh, laksana raja Jawa yang mendem ’wedokan’ karena pengaruh budaya Landa. Kurban tidak boleh diembel-embeli dengan pamrih keduniaan. Kurban harus didasarkan hanya untuk mencari Ridho Yang Maha Kuasa. Kalau ada kurban yang ’nalingsir’dari angger-anggering agama suci, maka jelas kurbanya akan terbakar alias menjadi arang atau karbon, menguap sia-sia.
Petruk hanya bisa ndomblong, melihat keanehan Raden Janaka. Dikeluarkannya kembali rekaman krida Raden Janaka yang berdurasi 12 MB, lewat kamera digitalnya. Namun baru saja membuka beberapa rekaman, tiba-tiba Raden Janaka nampak limbung, tubuhnya ambruk di tanah. Wajahnya pucat- pasi, pandangan matanya kosong, air matanya membasahi pipinya yang ranum memerah. Petruk segera berlari menghampiri tubuh Raden Janaka. Seketika Petruk ikut terhanyut dalam suasana kesedihan yang mendalam.
Surem ... surem diwangkara kingkin lir manguswa kang layon, denya ilang memanise wadananira layung kumel kucem rahnya maratani, ooooong.................
”Oalaah, ndara ... ndara Janaka, suwau kala sampun remen dene ndara sudah tegar kembali, akan tetapi kenapa sampeyan kok loyo kembali, enget ta Den, sampeyan itu satriya pinunjul lho, mboten kenging nglokro, depresi alias stres. Jer, lakar isining ndonya menika namung fatamorgana, apus-apus, menungsa kedah nrima nglampahi, lajeng menawi ndika menika putus asa, ateges kasatriyan ingkang ndara sandang mboten piguna malih. Pangurbanan panjenengan sia-sia, pupus, kalis, muspra. Enget nggih ndara, sok sintena ingkang tabah sabar, purun nglampahi ujian , ing mrika marganing kamulyan. Ananging suwalikipun menawi panjenengan, diuji malah kados mekaten, oooh mboten wonten malih ganjaran ingkang bade panjenengan tampi kejawi neraka jahanam.., rak ya kaya ngono ta Kang Gareng ?”
”Memang ada benarnya Truk, tetapi kamu juga harus ingat, ya sapa wonge ta le kaya ndarane dhewe itu kan masih pengatin baru ta, jadi kalau saat puncak asmaranya menggelora kemudian dipisahkan secara tiba-tiba, pastilah dia seperti itu. Dan aku yakin umpama awake dewe itu seperti itu, mustahil bisa menahannya”
”Bener kok kang Gareng, aku sendiri juga ikut merasakan kok. Aku jadi teringat, ketika aku manten anyar biyen, nalika semana aku lagi mamadu kasih karo mbok wedok, ning sor uwit, pinggir Telaga Ngebel, lha kok ujug-ujug ana Satpol PP, sing nggrebeg aku. Kontan aku brontak , emosiku memuncak. Tak maki-maki satpol PP sing kurang ajar, ngganggu anggonku memadu kasih ning sor uwit mau”
”Lha kok lucu !, Satpol PP iku kan lagi tugas ta le, lha sak mestine kalau ada pasangan muda-mudi bermesuman di depan umum, itu termasuk perbuatan zina”
”Njur menawa ning nggon remang-remang utawa ning njero ngomah njur khalal, ngono apa piye?”
”Ya ora le, kabeh mau menawa durung diikat karo pernikahan sing dicatat ning KUA, ateges ya durung sah. Berarti kelakuanmu kaya mangkono mau ya pada wae. Kowe sakaloron melanggar undang-undang”
”Ananging selama ini kan bukan kerjaan Satpol PP ta kang?, mereka itu kan selama ini hanya berani melawan kepada para pedegang kecil yang berdagang di tempat yang ndak ada ijinnya, atau kepada para gelandangan yang berkeliaran di dalam kota, mereka sama sekali tidak pernah merazia kepada pasangan muda-mudi yang bermesuman di tempat-tempat pariwisata, atau di tempat-tempat lain yang strategis untuk bermesraan”
”Sakjane ngono menawa aku ya ora pati setuju menawa pedagang cilik itu dikuya-kuya tanpa ada alternatif dari pemerintah. Padahal mereka itu telah kreatif , berusaha untuk tidak menganggur, mengais rejeki yang khalal. Cuma karena modalnya yang kecil, maka tindakan kreatif itu tidak diperhitungkan dengan aspek etika dan estetika. Lapak-lapak atau tenda dagangannya kemudian menimbulkan kesan kumuh yang mengganggu keindahan kota. Lha yen wis kaya ngono iku pemerintah kudu bijaksana, nggawekne tenda-tenda yang bisa dibongkar pasang, dengan rancangan yang seni, rapi, dan tidak mengganggu keindahan kota”
”Apa ya isa ta kang?”
”Pemerintah aja gerak dewe. Serahna kabeh mau kepada para arsitek atau seniman. Pemerintah bisane mung ngurusi pemerintahan, yen babagan seni, ora sembarang wong bisa kok Truk. Kuwi mau wis ana bidange dewe-dewe. Pemerintah aja kaku, rejeki wratakna kanggo para kawula. Satpol PP kudu tanggap. Ana gawean sing luwih wigati, tumraping kerusakan moral ing negri iki, yaitu pergaulan bebas sing tambah nggegirisi, pedagang cilik wis mbantu ngurangi pengangguran, binalah, arahkan agar kelak menjadi generasi mandiri, yang berdedikasi, cinta tanah air yang indah berseri”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar