Senin, 15 Juni 2009

Pilkada (Pi-lihane Ka-lah Danane Amblas)

Hujan mengguyur bumi Kahyangan Suralaya bagaikan air bah. Hampir seluruh halaman tergenang air. Perahu karet, tempat pengungsian dan persiapan logistik jika bencana alam terjadi telah disiagakan oleh badan penanggulangan bencana alam Kahyangan Suralaya. Team sar yang terdiri dari angkatan muda kadewatan telah siap siaga dengan memperbaiki sayap-sayap yang sewaktu-waktu bisa digunakan terbang. Mereka bekerja sama dengan departemen penerbangan untuk pengadaan sayap-sayap yang terbuat dari bulu-bulu angsa, agar nantinya tidak terjadi tergelincir lagi saat mendarat di lokasi-lokasi yang diperkirakan terjadi bencana banjir bandang dan lumpur.
Sementara itu tidak jauh dari pengamatan para pengamat politik, para pentolan kadewatan tengah menyandang kewirangan. Bathara Guru, Indra, dan Bathara Brama, berlari babak belur sekujur tubuhnya memar dihajar olah anak kecil, Raden Wisanggeni, yang dibotohi oleh Lurah Karangdempel, Kiai Semar. Wisanggeni menurut para dewa, sudah dianggap menyalahi aturan. Semula sebelum bertempur telah berjanji untuk tidak menerima bantuan orang lain, eee ternyata dia dibantu oleh Lurah Badranaya, alias Semar. Maka terjadilah kecurangan alias pembengkaan suara.
”Ngger Indra, dan Brama, kecurangan ini tidak bisa ulun biarkan, hayo ngger ikutlah ulun, menuju komisi konstitusi, dan komnas ham di Ngamarta sana, jangan terlalu lama ndik sini, jeneng kita harus berani jadi saksinya, nanti kalau para hakim bertanya, jawablah dengan sejujur-jujurnya kalau Wisanggeni telah curang dalam pertempuran..”
”Nggih rama pukulun”, ”Kasinggihan ngestoaken dhawuh rama pukulun”
”Bagus ngger, kalau begitu jangan kesuwen , hayo kita segera terbang ke Ngamarta, di sana jeneng kita bisa minta suaka politik kepada anak-anak Pandawa”

Bagaikan peluru, ketiga dewa keblinger itu berlari secepat kilat menurun, menukik tajam berlarian di sela-sela mendung , sambil sesekali melihat kanan dan kiri, jangan-jangan ada pesawat terbang yang lewat.
”Ngati-ati lho ngger, ulun kemarin kedrawasan ndik sini, pas ulun ngucek-ucek mata, tiba-tiba jarik ulun kecanthol besi menara, terus suwek, sobek weeek, ulun ndak jadi ke Maal, ndilalah pas odol karo sabun cuci ulun habis, waah akhirnya ulun batal, ndak jadi ke maal, pulang ganti busana...”
”Lho memangnya apa banyak menara sekarang ini?”
”Lho kepiye ta ngger, sekarang ini malah para lurah-lurah iki berlomba-lomba jadi makelar tanah sing khusus nggo mengadakan tower tlepon seluler iku lho ngger, waaah lumayan hasile gede, bisa nggo nyekolahne anak, mbangun rumah, paling tidak bisa untuk nyumbang jika warganya ada yang punya hajat, kan lumayan ta ngger mengurangi pengeluaran gaji, makanya hati-hati sekarang itu di samping banyak menara, juga banyak bangunan bertingkat tinggi, hayo jangan ngobrol terus nanti kita terkejar oleh Wisanggeni..lo ngger”
”Mari rama pukulun...”
Sementara itu di aloon-aloon kahyangan Wisanggeni nampak sedang berbicara serius di dekat patung singa. Tidak jauh dari sana nampak para simpatisan parpol tengah memancangkan tiang bendera parpol di pohon-pohon dan di perempatan. Nyaris seluruh taman kota kini tertutup oleh bendera-bendera parpol, yang justru tidak memperindah, tapi malah mengotori alias menjadi bertambah semrawutnya pemandangan.
”Aiiiih...aiih.. mbregegeg ugeg-ugeg sak ndulita hml...hml..., kepriye ngger Wisanggeni, dewa tangan papat karo anake loro apa sudah kamu taboki”
”Mbah !, dewa tangan papat karo anake loro pisan sekarang sudah lari terbirit-birit, wong telu mukanya sudah lebam semua, ketika aku kejar mereka lari turun ke arah sana” kata Wisanggeni sambil menunjuk ke arah barat daya.
”Oooo lha dalah, kalau larinya ke arah sana itu mesti mereka bakal menuju ke negara Ngamarta ngger, kalau begitu jangan berlama-lama , hayo kita kejar dewa tangan papat dengan dua anaknya itu...”
”Ayo mbah ”

Begitulah sebuah hukum alam telah terjadi. Padahal Sang Hyang Guru adalah rajanya dewa, karena dari perbuatannya yang nalisir dari anggering kautaman, mesti bakal ngundhuh wohing pakarti. Terbukti , karena kesombongannya telah mereka obral, akhirnya terkalahkan oleh anak kecil yang masih suci dari dosa. Hal ini kita mendapatkan pelajaran bahwa kesombongan bakal dikalahkan oleh kesucian. Kurang apa, padahal Bathara Guru telah mengeluarkan pusaka saktinya, Kyai Cundhamanik, akan tetapi sedikitpun tidak bisa mengalahkan anak kecil yang menyerangnya. Justru kini Bathara Guru beserta dua anaknya berlari mencari suaka politik ke negara Ngamarta. Sebuah kebiasaan yang amat tabu bagi mereka yang berkelas dewa. Mestinya mereka itu sebagai pengayom, harusnya melindungi seluruh kawulanya, akan tetapi justru merekalah yang mempelopori kerusakan di muka bumi ini. Dan kini menjadi terbalik, dewa minta perlindungan kepada manusia, sebagai titahnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar